LAHIR DAN MELATA
Hamidin Krazan
Di Kaki Bromo |
Lahir telanjang
Jika itu kau jabang bayi lelaki
Seharusnya kau tetap bugil teronggok di atas tikar batu
Iya serupa tikar dari tatanan bebatuan
Batu-batu yang difungsikan tikar
Beralas batu-batu itu
Tetaplah kau menangis selayaknya
Anak-anak kambing
Terlahir lalu mengembik
Serupa anak-anak macan yang konon lahir spontan melesat
Sehingga manusia jawa berasosiasi anak macan itu disebutnya plencing.
Entah salah nenek moyang atau salah keadaan
Bayi terlahir dirawat seiring proses waktu berjalan.
Diselimuti agar tidak kedinginan
Dipayungi dari terik sepanjang siang
Disusui melalui puting si ibu layaknya
Kambing kepada cempe-cempenya.
Seiring bergulir zaman
Pelindung bayi dari dingin itu bermula konon kelika kayu atau dedaunan.
Bayi kakek buyutku
konon dengan popok mori atau karung goni
hingga ayah ibuku telah mengenal popok jarit dipotong-potong
Lalu aku dibalut bedong, grita dan anak-anak cucuku
Semakin tak lagi digunakan kemben sebagai barutan.
Kelak anak buyutku bisa saja terlahir sudah layaknya bijih kapsul warna warni dengan pengaman sintetis dan tahan segala radiasi bahkan multi fungsi?
Aku tidak dibiarkan oleh ibuku dengan karunia perkembangan pikir hingga mewujudkan kepala damai dengan orbit budaya untuk TAK membiarkan saja lahir telanjang teruslah telanjang
Layaknya cempe dan plencing itu.
Harusnya kau bayi meski tumbuh menjadi sosok kini
Tetaplah telanjang kesana kemari.
Harusnya kau beraktifitas ke desa desa keluar masuk kota terus saja telanjang agar tidak terkontaminasi dengan segala proses perubahan dengan segala konsekuensi.
Mau jadi remaja terus saja telanjang
Berkenalan wanita terus saja telanjang
Menikahi wanita pujaan dan sejiwa?
Kau dan wanitamu tetap saling telanjang
Hingga lahir dan anak keturunan hingga menantu
Mestinya berpose dengan foto telanjang
Ke rumah tetangga telanjang
Ke sungai telanjang
Ke pasar telanjang
Ke kantor kelurahan hingga ikut upacara tetap saja telanjang
Hingga foto profil di medsos mengapa tidak telanjang?
Bukankah itu asli atas nama keagungan budi daya diri?
Silakan telanjang
Aku tidak mau
Sebab aku puisi!
Semarang- Malang, 18 Nop 2024