Semoga para Blogger yang berkunjung panjang umur tambah rezeki

Salam menebar sayang. Apa kabar saudaraku... sekiranya secuil kesan tertoreh dalam jumpa maya ini, duh seneng aku... jangan lupa ya tinggalkan pesan....

kunjungi juga www.tegalseksi.blogspot.com dan www.krazan.blogdetik.com

Fathiahku

Assalamu'alaikum

Di arus kehidupan ini tak ubahnya kita sedang mengarungi sebuah sungai. Ada yang mampu memotong arus menuju titik yang dikehendaki. Ada yang menyelam mendulang mimpi yang tersisa di siang hari. Ada yang berenang meski kelihatan terbawa arus sekedar menyiasati diri. Persoalannya ketika muara tak hanya dari satu penjuru yang selama ini kita kenali. Terlebih musim tak lagi berjadwal di agenda tradisi. Jadi kita bukan lagi menyebrangi arus sungai, melainkan berenang di kepungan ombak. Kadang disertai badai. Lantas bermanfaatkah 'Setetes Tinta Tentang Leleh Keringat' ini di tengah kepungan dan amuk gelombang tak kenal musim itu? Selamat menggali permenungan dari sekelumit kutipan yang Anda kunjungi ini.

5/19/2016

BATIK TULIS BANYUMASAN DARI CILONGOK



 

Masyarakat Cilongok boleh bangga karena tidak hanya dikenal sebagai pusat penghasil gula kelapa di Banyumas. Ternyata di bidang pelestarian seni batik tulis pun tak bisa dianggap sepele. Karena ada salah seorang warganya yang begitu loyal dan penuh pengabdian dalam upaya pelestarian seni batik tulis.
Melalui ketelatenan dan daya kreasi yang melekat dalam diri Hj Karinah (86) sehingga Cilongok memiliki aset langka dalam urusan pelestarian seni batik khususnya di wilayah Banyumas bagian Barat ini. Melalui kekayaan daya ciptanya, Hj Karinah merupakan sosok yang memiliki pengabdian tanpa pamrih dalam bereasi di bidang seni batik tulis.

Meski paling banter sebulan Hj Karinah baru dapat menyelesaikan sepotong kain batik, namun karyanya memiliki keunggulan dari bermacam sisi. Karena membatik sudah menjadi bagian dari perjalanan hidup yang penuh dengan pengalaman. Baik pengalaman dari perhelatan antar zaman maupun pengetahuan yang diperolehnya melalui pendidikan formal sejak jaman penjajahan Belanda.
“Saya mulai membatik sejak masih gadis cilik,” kata Hj Karinah kepada banyumasnews.com saat ditemui di kediamannya di Desa Bantuanten Kecamatan Cilongok, Sabtu (26/9).

Dituturkan nenek dari 28 cucu dan 8 buyut ini, sebelum tentara Jepang datang ke Indonesia, dirinya sudah belajar membatik. Pada tahun 1934 Karinah lulus Sekolah Rakyat (SR) tiga tahun kemudian melanjutkan ke Sekolah Kartini di Ajibarang dan lulus tahun 1936.

Ketika di sekolah Kartini itulah Karinah medapatkan bermacam pelajaran kerajinan tangan, seperti menjahit, menyulam, menenun hingga membatik. Para pengajarnya dari berbagai daerah seperti Cirebon, Jogjakarta, Cilacap sedangkan guru tenun berasal dari Bali.

Setamat sekolah Kartini, dia melanjutkan sekolah pertanian di Purworejo. Sebelum akhirnya dijemput oleh orangtuanya untuk menikah, Karinah sempat mengikuti kursus kebidanan.Selama masa penjajahan Jepang, Hj Karinah tidak membuat batik, karena ketika itu memang kondisi bangsa pada umumnya sedang dalam kondisi melarat. Kemudian mulai membatik secara serius, ketika Hj Karinah menetap di Desa Batuanten pada tahun 1942.

Saat itu, dirinya tergugah setelah menyaksikan kondisi masyarakat setempat yang pengetahuannya serba terbatas. Demikian juga dalam hal berpakaian. Perempuan pergi ke pasar dengan tanpa busana, kecuali hanya mengenakan kemben itu hal biasa. Kemudian melalui kegiatan semacam perkumpulan wanita Hj Karinah mencoba menularkan ilmunya di bidang membatik kepada ibu-ibu di desa tersebut.

Namun, menurut Hj Karinah, banyak para ibu yang mengundurkan diri untuk belajar membatik. Alasannya terlalu telaten dan makan waktu lama. Maklum, masyarakat setempat terbiasa dengan pekerjaannya berupa mengolah gula kelapa yang dapat diolah dalam waktu cukup singkat, lalu bisa dijual dan dapat uang. Sedangkan membatik minimal sebulan baru dapat selembar kain jarit.

Menurut istri dari H Nurdin Kamal Mustafa, bermacam batik baik itu batik Solo, batik Jogya maupun batik Banyumas, secara garis besar sama. Adapun yang membedakan dari ketiganya adalah Sogan-nya. Misalnya Sogan Solo warnanya kuning kecoklatan, sedangkan Sogan Jogjakarta dominan warna coklat sementara Sogan Banyumasan berwarna putih. Adapun motif batik itu sendiri jenisnya lebih dari seratus.
Proses membatik sendiri memerlukan ketekunan, ketelatenan, kehati-hatian, cermat, imajinatif dan memiliki daya tahan yang tinggi. Bagaimana tidak? Sebelum dibatik, mori yang akan diajdikan emdia batik itu sendiri harus diproses sedemikian rupa agar ketika dilukis melemnya tidak kalis. Begitu selama membatik itu ada beberapa tahapan. Setiap tahapan membutuhkan waktu tersendiri yang cukup lama.
Dari mori yang sudah siap dibatik, terlebih dulu digarisi, baik garis miring atau garis lurus sesuai dengan corak yang dikehendaki. Tahapan awal dilanjutkan dengan Diwedel, lalu dibatik lagi kemudian Dibironi, dibatik lagi baru Disoga.

Bermacam corak batik hasil karya Hj Karinah seperti batik Kembang Asem, batik Parang Kesuma, batik Parang Lunglungan, batik Kawung, dan masih banyak lagi.
Selain sering mengikuti pameran baik di Desa, Kecamatan dan tempat lain, batik tulis asli karya Hj Karinah juga pernah dipesan oleh warga Australia. Selain pernah mendapatkan bantuan seperangkat alat membatik seperti canting dengan bermacam fungsi juga bahan baku seperti malam dan kain mori dari Disperindagkop Kabupaten Banyumas.

Sedangkan upaya pelestarian seni batik bagi para generasi penerus yang telah dilakukan seperti melalui kegiatan kursus mebatik bagi Ibu PKK Kecamatan Cilongok, PKK Desa Batuanten, maupun melalui kegiatan ekstrakurikuler di sejumlah sekolah formal sepertidi SMP Muhammadiyah Cilongok di bawah asuhan Ibu Endang Yuwana, di SMP Terbuka, serta melalui kelompok kegiatan ibu-ibu lainnya.
Dengan demikian, ketika batik Banyumas menjadi bagian dari eksistensi keberagaman batik Indonesia, maka kinerja dan pengabdian Hj Karinah di bidang pelestarian batik, perannya tidak bsia diabaikan begitu saja. (Hamidin Krazan).

8/23/2015

AROMA KHUSUK



  • Seperti masakan, ada sesuatu yang diolah di dapur niscaya ada aroma yang menyeruak ke ruang-ruang sekitarnya, bahkan menerobos celah-celah lubang ventilasi rumah. Dalam sholat berjamaah, masjid dengan segala sarana, suasana dan kondisi fisiknya, para jamaah dengan ragam tampilan fisik, sikap dan pembawaan, gaya penampilan, keunikan baik yang berkenaan dengan perilaku maupun pola pikir dll, imam dan takmir masjid dengan tingkat kesadaran akan tugas dan tanggung jawab yang diembannya; semua itu akan menjadi adonan hingga proses beribadah mahdhoh dapat menjadi sebuah rangkaian ritual yang membuahkan khusuk atau tidak?
    Sholat khusuk adalah puncak pencapaian ibadah bagi hamba pengabdi Sang Khalik. Idealnya sebuah sholat ya Khusuk. Coba bacasurat Al Mu'minun. Jika menelaah sejumlah definisi khusuk, kita menjadi introspeksi, sepertinya sholat kita dalam tataran sholat ideal, masih jauh panggang dari api. Tapi karena itu bagian dari sebuah nilai maksimal yang menjadi bagian dari tujuan, apapun risiko tantangan dan rintangannya, harus diperjuangkan dan juga memohon bantuan Alloh (doa) agar kita dianugerahi sikap khusuk dalam ibadah kita.
    Terkait dengan persoalan ini, jikalau puncak khusuk sebagai sebuah hidangan ibadah mahdoh bagi setiap hamba belum tercapai, belum memenuhi target, atau kurang mendekati kenikmatan hidangan batin dalam setiap penjamuan diri selaku hamba dengan Sang Khalik, ya setidaknya Aroma itu dapat menyeruah dalam sholat yang kita laksanakan. Banyak cara, kiat, usaha agar khusuk atau minimal aroma khusuk itu membuat sholat terasa nikmat. Jika khusuk ada yang memilah dalam dua kepingan, yakni kepingan fisik dan kepingan non fisik. Kepingan fisik, dalam arti khsusk yang hanya sebatas sikap yang dibuat-buat seolah khusuk, dalam penjelasan seorang ahli tafsir dikatakan Khusuk Nifak (pura-pura). Serta khusuk imani. yakni khusuk yang merupakan nuansa hati tulus, tumininah, dan penuh pasrah kehadiran Alloh dengan usaha-usaha maksimal agar hal-hal yang membuat khawatir akan tertolaknya ibadah kita, dapat dihindari.
    Dengan demikian, kemegahan masjid sebagai sarana beribadah (sholat), bukan jaminan untuk meraih khusuk sejati. Imam Sholat yang sekedar hafal Al Qur'an namun tidak berupaya seolah penggalan bacaan itu menjelaskan kefahaman makna-makna dari ayat yang dibacanya, juga bukan jaminan dapat mendukung makmum jadi khusuk. Apalagi faktor lingkungan dimana masjid (tempat sholat) itu berada, juga menjadi pendukung pencapaian khusuk itu terdaki.
    Maaf, jangan tersinggung, jika ada makmum yang memilih tidak sholat dengan imam sholat yang bacaannya alfatikhahnya saja masih salah makhroj; Kadang mengesalkan juga, ketika ada imam yang asyik sendiri karena terlalu banyak hafalan Al Qur'an, namun kurang memperhatikan bahwa makmum juga perlu mendapat bimbingan atas hafalnya surat-surat al qur'an, melalui diulang-ulangnya surat yang dibaca imam. Ya itu tadi, cara membacanya sedemekian rupa sehingga, seolah kita yang tak tahu artinya pun, dapat merasakan fantasi maknanya. Apalagi, jika ketemu sikap-sikap 'nyleneh' antar sesama makmum, pun membuat upaya pendakian khusuk terusik, buyar, bahkan alih-alih menjadi Ghibah di dalam sholat. "Bayangin aja, ada makmum yang sajadahnya nggak boleh diinjak makmum lain, padahal si makmum lain melakukan aksi injak sajadah karena dirinya sadar pentingnya merapatkan shaf dan barisan dalam sholat,". apalagi jika makmum, yang kadang mendahului gerakan imam, atau memperlambat gerakannya tak sesuai gerak kompak dengan jemaah lain. Wallohu 'alam.
    (Bersambung...)
  • Bang Joh hmmmmmmmmmmm.....
  • Dwi Martono Apa itu Khusuk.. smile emotikon
  • Hamidin Krazan Bung Dwi Martono, kata Edi Romadhon, khusuk ibarat mbonceng sepeda motor jadul, smbil memegang gelas yang terisi air penuh, sementara motor melaju kencang 60/Jam, air itu utuh tak koncret apalagi tumpah se'encret' pun! Sedangkan Khusuk menurut Ahli tafsir Ibnu Katsir, cari aja deh sendiri....

8/19/2015

PUTRA GARA - HAMIDN KRAZAN



Puisi Hamidin Krazan Akhir Pekan

Mo baca puisiku karya terbaruku?Hanya ada di Puisi Akhir Pekan

Sekilas prestasi sekolah dan siswa di Tegal juga ada tegalseksi