Tampilkan postingan dengan label Kerja Keras. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kerja Keras. Tampilkan semua postingan

1/21/2009

Rumah Kecil Tiga Dapur

Dapurku Album Kenanganku

Jujur aja, rumah yang kutempati luasnya hanya 9 x 6 meter di tambah kolam ikan yang ada di antara kamar tidur utama dengan ruang keluarga. Kamar tidur letaknya terpisah berukuran 3,5 x 3 meter. Luas kolam ikan 1,5 x 4 meter. Di atas sebagian kolam ikan itu di buat jembatan untuk akses antara ruang keluarga ke kamar tidur utama. Di sebelah ruang keluarga ada dapur dan WC.

Dapur ini dapur yang sebenar-benarnya dapur, memang cukup sempit. Ukuran panjang 1,80 meter lebar 1,30 meter. Sempit kan? Keramik lantai berwarna coklat klasik bermotif batu cadas kekuning-kuningan, keramik dinding kuning langsat licin menyerupai warna kulit cumi rebus, di antara keramik yang dipasang berdiri sepantaran orang berdiri dihias dengan ornamen keramik motif untuk membentuk lies dengan aksen ukiran menyerupai tanaman rambat berwarna coklat gula jawa.

Karena belum bisa membeli kitchen set, akhirnya dinding dapur pada batas pemasangan keramik dengan tembok tanpa keramik ditancapi beberapa paku beton yang berbaris berjarak antara 20 Cm-an, gunanya untuk gantungan perkakas dapur. Ada tiga panci ukuran tanggung berbahan aluminium (24 Cm), tanggung stainlees, panci langseng, panci bertangkai yang biasa buat masak mie instan, ada wajan kecil dan tanggung stainlees, gayung air bersih, alat ceplok dadar, parutan dan rak gantung tempat bumbu instan, kopi, gula serta botol madu serta tempat garam kecap dll.

Di bawah festavel ada kompor gas mata satu yang masih dibungkus kardus, ada tabung gas ukuran 15 Kg, tumpukan kaleng cat ukuran 5 kg yang isinya perkakas serba tajam, paku, obeng, gunting, drey kembang dll. Di sisi satunya lagi tempat kompor gas bermata dua serta termos air panas dan magic jar. Sisi tembok satu lagi ada kompor minyak. Di kolong tempat kompor gas yang rawan lembab untuk penampungan gerabah pecah belah (abis belum punya lemari etalase khusus sih). Ada juga keranjang tempat bumbu dapur seperti bawang M, Bawang P sampai sewadah beras berkualitas rendah yang khusus untuk mengisi kaleng ‘jimpitan’ ronda setiap malam.

Di sebelah festavel ada rak duduk buat gerabah yang baru dicuci, sebelah kirinya ada rak standar untuk gerabah kering. Abis kalo langsung ditaruh di situ sehabis nyuci, bikin lantai becek! Kan gak punya pembantu…. Dapur awam alias dapur sebenar-benarnya dapur ini setiap aku amati sambil masak mie rebus ibarat album foto beribu berwajah. Mao tahu alasannya?

Magic Jar

Besek nasi elektrik ini aku beli di toko gerabah grosir sebrang pasar Blok F Tanah Abang Jakarta. Selain alat yang satu ini, juga ada seperangkat lainnya yang dibeli di toko tersebut. Setiap hari di toko ini banyak dikunjungi para pedagang gerabah keliling yang kebanyakan berasal dari Tasik. Ketika aku membeli alat ini, pelayan menyangka aku salah seorang dari tukang kredit alat rumah tangga yang biasa keliling dari gang ke gang. Ketika itu aku kos di Tanah Rendah dekat setasiun Tanah Abang, Jakarta Pusat. Sedangkan kerjaku di Kebayoran Lama, Jaksel.

Kompor Gas

Kompor gas mata dua yang biasa dipakai (kalo ada gasnya) dipinjami mertua. Sedangkan kompor gas mata satu yang masih terbungkus kardus merek ternama, hadiah dari teman kerjaku, dibelinya di Cilandak Mall. Sebelumnya aku juga pernah diberi kadi kompor gas sewaktu menikah dulu, oleh Pimpinan Perusaan tempatku bekerja. Tapi ketika menghadapi masa sulit, kompor itu aku jual melalui jasa tukang kredit. Padahal kualitasnya bagus. Sedangkan sepasang nampan capucino bermotif hijau daun muda berbahan melamin dan talenan veber itu aku beli di mall Cilandak juga. Ketika itu aku kos di daerah Kebagusan, Pasar Minggu Jakarta Selatan.

Panci bertangkai

Barang yang satu ini milik keponakanku, konon dia beli ketika bekerja di Tangerang. Tapi begitu pindah kerja dan tinggal satu kos denganku, akhirnya kemana aku pindah kontrakan barang yang tangkainya sudah pernah patah dan dibaut lagi ini masih setia bersamaku. Kini bagian alasnya pun tak hitam penuh jelaga, melainkan masih terjaga licin dan kelihatan putih warna aluminiumnya. Rajin diogosok sih. Hanya sedikit peot. Maklum dah teuk.

Termos air panas

Termaos air panas, rak piring sedang dan rak piring duduk aku beli di sebuah toko gerabah di depan Alfamart Depok Jalan Dewi Sartika. Ketika itu aku ngontrak di jalan Belimbing Depok Lama. Jika ditempuh dengan jalan kaki dari stasiun Depok Lama ke arah selatan, sekitar 1 Km.

Cobek-Ulekan Batu Candi

Cobek kecil berbentuk bintang meski aku bawa dari Kampung Makasar Cililitan Jakarta Timur, gerabah purba ini didatangkan dari Munthilan Jawa Tengah. Aku pernah mambantu temanku membuka usaha semacam galeri dan berbagai hiasan taman dari batu-batu candi seperti arca, relief dll. Cobek itu pemberian dari temanku. Ukurannya kecil tapi buat mengulek sambal cabe rawit, wuih…. Pasti pedes

Kompor Minyak

Dipakai setiap gak bisa beli gas, tapi belakangan sejak minyak tanah menghilang di pasaran, kompor ini sering menambah derita dan sakit hati yang dirasa pemiliknya kepada kebijakan-kebijakan pemerintah yang dirasakan semakin menyulitkan rakyat kecil. Masa beli minyak tanah harus bersikap saling bermusuhan dengan penjual dan sesama pembeli? Antri, belinya dijatah, harga mahal, saling sikut lagi. Biar dapat minyak tanah 5 liter saja, harus KKN. Dunia macam apa ini? Tetapi kompor minyak ini tidak bisa dienyahkan, abis beli gas duitnya kurang, masak pake tungku gak punya dapur tradisional. Kayu bakar sih banyak kan deket hutan….

Panci bermacam ukuran

Panci dan beberapa gerabah kecil lainnya dibeli di toko gerabah di Jalan Jend Sudirman Purwokerto Jateng, setiap libur kerja aku sempatkan jalan-jalan di kota kelahiran dengan oleh-oleh di antaranya panci! Sebenarnya ada juga barang yang dibeli di Matahari Citos, di Bogor dan Citraland serta di Depo Bangunan Depok dll tapi….. segitu aja lah.

Nah, dapur kedua berada di ruang keluarga. Dimana di situ ada meja dan kursi serta deretan buku. Serta komputer dan Laptop. Sayang keduanya sedang rusak. Padahal pernah diperbaiki di tempat reparasi. Komputer sama reparasi kampung sedangkan Laptop dibawa ke Ratu Plaza Jakarta ternyata hasilnya nol. Cuma banyarnya yang mahal, tapi hasilnya Nol! Padahal keduanya merupakan ‘dapur’ untuk memasak ide, gagasan, ilham, inspirasi ataulah apa macamnya sehingga salah satunya menjadi karya baik Puisi, cerpen ataupun cerpeeeeeen sekali. Di ruang keluarga ini juga sebagai dapur untuk mencairkan bungkahan kebekuan rasa di antara anggota keluarga. Lintang, Zara maupun Sukmaku.

Satu lagi dapur yang terpisah. Dikonci setiap malam, dihiasi lampu yang bisa diatur gelap terangnya melalui dimmer, dapur ini tanpa tungku tapi penuh bara cinta. Dapur tanpa kompor tetapi penuh dengan kehangatan. Dapur bukan untuk menanak nasi melainkan menenangkan riak-riak hasrat insani. Dapur dengan kasur kapuk randu berseprei mawar hijau merek La Paloma yang kubeli di Roxy Jakpus. Dapur ajang panggung kamasutra! Enak dan memuaskan.

Kalau libur panjang, agar anak-anak mengenal dapur tradisional. Dapur yang berdinding anyaman bambu, penuh jelaga bernuasna hitam. Ada tungku, ada tumpukan kayu bakar, seikat daun kelapa kering, anglo (potongan bambu) untuk meniup bara hingga menyala jadi api. Aku bawa mereka ke rumah Mbah Putri di selatan lereng Gunung Slamet. Atau aku bawa ke rumah Bude Sri, rumahnya di dekat perkebunan teh Kaligua Brebes. Di daerah yang letaknya di Barat Daya Gunung Slamet itu berada di ketinggian di atas 2000-an meter dari air laut. Setiap rumah di daerah ini pasti punya dapur tradisional, salah satunya untuk menghangatkan badan setiap pagi atau malam hari sambil memasak air. Kalau di Eropa atau Villa di Puncak kan pakai penghangat ruangan?

Sebenarnya masih banyak macam dapur dan keunikannya, tapi satu lagi aja ya. Yang paling aku sukai setiap menempuh perjalanan dari Jakarta – Purwokerto dengan kereta, dulu sering naik Purwojaya (Gambir-Kroya), itu ada tempat favorite, yakni dapur restorika. Alias kereta makan, di tempat ini selain bisa kenalan sama Polis Kereta, Masinis, petugas restorika juga kadang bisa pedekate sama pramugari kereta…. Dapur refresshing…. Asal jangan mimpi bisa masuk ke dapur KFC, Hokben, CFC, Wendys, Solaria dan Mie Gajahmada pasti DILARANG MASUK! nKZ

11/19/2008

Profil Pekerja Keras

Mulyono Wibowo

Gordyn Menjadi Bagian Gaya Hidup

JENJANG pendidikan yang dijalani Mulyono Wibowo boleh dibilang alakadarnya. Lantaran dia tidak sampai mengenyam pendidikan tinggi. Bahkan sekolah lanjutan ataspun tidak tuntas. Diakui Mulyono, sekitar tahun 1978 dia hanya dua tahun mengenyam pendidikan SMA Terbuka di Semarang.
Ketika itu Muyono lebih kepincut untuk merantau ke luar daerah. Ibarat kata pepatah, anak panah jika tidak dilepas dari busurnya maka sasaran tidak akan terbidik. Karena itu Muyono hengkang dari kampung halaman menuju daerah berhawa dingin di wilayah Jawa Barat. “Saya bekerja di peternakan ayam,” kata Mulyono kerpada NP, Rabu (14/11) di tempat usahanya di Jl DI Panjaitan Kota Tegal.
Bekerja yang diniati sambil belajar berternak ayam itu ternyata hanya bertahan selama satu tahun. Selanjutnya Mulyono bekerja di bengkel mobil di Salatiga. Di tempat kerja yang sehari-harinya bergelut dengan onderdil dan mesin berjelaga itupun dia hanya bertahan satu tahun. Setelah tidak puas dengan onderdil mesin yang berukuran besar, selanjutnya Mulyono meluncur ke Tegal. Dia beralih pada pekerjaan ringan tapi modis, yaitu berjualan kaca mata.
Tahun 1980, selain Mulyono berjualan kaca mata di Tegal, juga membuka usaha serupa di Pemalang. Hingga tahun 1990 beberapa pekerjaan lain yang juga dicicipinya, antara lain bekerja di Kantor Kecamatan di Semarang dan menjadi Pengawas Bangunan. Mulai tahun 1991, Mulyono semakin menemukan titik temu dalam usaha yang digelutinya. Awalnya dia menjaga toko buku milik adiknya di Jl DI Panjaitan. Selain menjual buku dan perlengkapan alat tulis kantor, di tempat ini juga memajang gordyn.
Pada tahun 1992 Mulyono menikah dengan Widia C. Selain Widia sebagai istri, ternyata banyak pemikiran dan ide-idenya tentang desain interior, sehingga semakin menguatkan tekad Muyono untuk menentukan satu usaha yang tetap yaitu di bidang desain interior.
Diakui Muyono, semua pekerjaan yang pernah dijajalnya semata-mata karena pekerjaan itu disukai. Tetapi rasa sukanya terkadang cepat pudar. Sehingga seringkali dia berganti-ganti pekerjaan. Artinya, setiap pekerjaan yang tidak diteruskan berarti pekerjaan itu tidak disukainya lagi. Tetapi untuk usaha yang satu ini, atas dukungan istri tercintanya, Mulyono menemukan tekad dan semangat yang lebih dominan.
Sejak tahun 2002 toko yang semula menjual ATK dan buku diubah menjadi tempat usaha gordyn semua. Beberapa hal yang membuat Mulyono lebih awet dan mantap menjalani usaha di bidang desain interior, berupa penjualan gordyn dan segala perlengkapannya, karena Mulyono menyukai keindahan. Setiap- jalan-jalan me\senang melihat rumah bagus. Tetapi tidak semua tampilan rumah bagus disertai dengan desain interior yang bagus pula.
Memang awalnya orang hanya menegnao gordyn sebatas sebagai penutup jendela. Tetapu semakin bertambah pengetahuan dan informasi dari kota ebsar semamakin canggih, wawasan masyarakat etrahadap desain interor rumah pun semakin bertambah,. Sehingga Mulyono semakin tertantangd engan banyaknya pesanan model gordyn yang laindari bianya. Dismaping dia bersama intri juga menyediakan model-modell yang banyak pilihan juga. Bahkan sering menajdi konsultan bagi orang yang iongin mendesain isi rumahnya denbganm warna dan model gordyn yang cocok.
Semakin lama usaha yang dijalaninya semakin berkem,bangd an banyak konsumen yang menjadi pelanggannya. Dalam menjalankan usaha inio seperti ada kesepakatan tidak etrtulis ebrsam istrinya. Yakni Itri sebagai perencana sedangkan Muolyono sebagai pelaksana. Bai ayah dari lima anak ini kini telah memiliki 5 orangkaryawan. Bahan gordyn seperti katun, polyster , rel, renda taly tassel didatangkan dari bandung dan jakarta. Semaki ke sini fungsy gordyns tidak hanya untuk penutup ruangan teapi sekaligus sebagai kebutuhan artistik ruangan bahakns ebagai simbol gaya hidup. Hal itu mmebuat usaha ini semakin penuh tantangan dalam melayni permointanh konsumenn sekaligus peluang pasar yang bagus (Ham)

Profil Tahan Banting

HM Eri Dwiyantoro

Tertarik Susu, Lepas KBAU


“BEGITU saya mulai serius menjalankan usaha penjualan susu murni pada tahun 1996, jabatan sebagai Kepala Biro Administrasi Umum (KBAU) di Institut Computer Managemen (ICM) cabang Bandung (kini AMIK YMI Tegal) saya lepas.”
Kata Pengusaha Susu Sapi Maju, HM Eri Dwiyantoro , Senin (22/10/07) saat ditemui di toko tempat usahanya di Jl Werkudoro 215 Tegal.
Setelah menikah dengan Arofah, tahun 1994, Ari memulai usaha susu kecil-kecilan. Ketika itu setiap pagi setelah memerah susu sapi, Eri berkeliling wilayah Tegal menjajakan susu sapi murni. Ia keluar masuk lontrong selama empat tahun. Omsetnya antara 25 sampai 50 liter susu, dikulak dari perusahaan sang mertua, H Syarief. Selama empat tahun ia jalani usaha itu dengan modal pas-pasan.
Usaha ayah mertua di bidang ternak sapi berhenti sejak ada kebijakan pemerintah. Peternakan sapi dilarang berada di tengah permukiman penduduk. Pada tahun 1996, 250 sapi milik mertua dijual. Hasil penjualan sapi dibagikan kepada duabelas anak almarhum. Salah satunya Hj. Arofah. Sejak itu Ari memutuskan berhenti bekerja di KBAU. Ia memilih usaha pengolahan susu. Ia medapatkan susu dengan cara menjalin kerjasama dengan Balai Pembibitan Ternak Unggul (BPTU) Sapi Perah Baturaden sebagai produsen susu.
Selain kios di Jl Werkudoro, Eri juga membuka kios susu di Mejasem, di Pagongan dan pada tahun 2000, area kios di Jl Werkudoro diperluas. Ia mengembangkan sayap usahanya di Slawi, Trayeman, Brebes dan di Pemalang.
Awalnya ia ambil susu di BPTU Baturaden hanya 120 liter susu. Sekarang mencapai 800 liter susu. Atas kepercayaan BPTU Sapi Perah Baturaden, Eri dipercaya sebagai salah satu agen susu untuk wilayah Tegal, meliputi Kabupaten Tegal, Kota Tegal, Kabupaten Brebes dan Pemalang.
Kendalanya, ketika masih memerah susu sapi yang dipeliharanya, persoalan muncul pada saat sapi hamil tua, karena produski susunya sangat minim. Stok pun berkurang. Sebaliknya ketika sapi baru melahirkan, susu mengalami over produksi. Sehingga kewalahan dalam penanganan.
Selama ini pinsip Eri, tidak mudah menaikkan harga jual ketika stok sedikit atau menurukan harga ketika susu over produksi. Hal itu dimaksudkan untuk menjaga stabilitas harga dan mengikat pelanggan. Padahal yang namanya susu murni massa kadaluwarsa sangat cepat. Setiap ada kelebihan stok susu dalam jumlah ratusan liter, Eri merasa kewalahan.
Dalam mengembangkan bisnisnya, Eri memiliki motto, Susu Sapi Maju Lebih Hygienis. Untuk menjaga kualitas produksinya, secara rutin dilakukan pengawasan dari Dinas Kesehatan Kota Tegal, Dinas Kelautan dan Pertanian Kota Tegal. Setiap bulan selalu diambil sample untuk dicek laboratorium guna diketahui kadar air, kadar keasaman, kadar alkohol, kadar lemak, dan kadar kebersihan. Begitu juga dari BPTU Baturaden juga mengontrol produksinya secara periodik.
Untuk meningkatkan pengetahuan dalam proses usahanya, Eri sering ikut pelatihan, yaitu Seminar tentang Penanganan Masalah Susu di Lembang Bandung. Seminar tentang Pengenalan Alat Pengolahan Susu di Serpong Tengerang dan di Yogyakarta. Pernah mengikuti Pelatihan ‘Laik Sehat’ yang diselenggarakan Dinas Kesehatan Kota Tegal. “Melalui penjualan susu sapi murni, masyarakat bisa mengkonsumsinya meski hanya dengan uang seribu rupiah,” tandas ayah dari empat orang anak menutup perbincangan (ham)

PUISI PERHELATAN BAYANG DAN KENYATAAN

 LAHIR DAN MELATA  Hamidin Krazan Di Kaki Bromo  Lahir telanjang Jika itu kau jabang bayi lelaki Seharusnya kau tetap bugil teronggok di ata...