10/17/2008

Profil Sastrawan Indonesia

12 September 2007
Profil Sastrawan 1900-1949 Bagian 3
Tags: Ike Soepomo, Iwan Simatupang, J.E Tatengkeng, Kirdjomuljo, Korrie Layun Rampan, Kuntowijoyo, Leon Agusta, LK Ara, M. Fudoli Zaini, M. Saribi Afn, Mansur Samin, Marah Rusli, Mochtar Lubis, Mohammad Diponegoro, Motinggo Busye, Muhammad Ali, Muhammad Yamin, Mustofa Bisri, N. Riantiarno, Nasjah Djamin, Nh. Dini, Nugroho Notosusanto, Nur Sutan Iskandar, Piek Ardijanto Soeprijadi, Pramudya Ananta Toer, Putu Wijaya, Rahim Qahhar, Rayani Sriwidodo, Ramadhan KH, WS Rendra, Rusli Marzuki Saria, Rustam Effendi, Saini K.M, Sanento Yuliman, Sanusi Pane, Sapardi Djoko Damono, Satyagraha Hoerip, Selasih, Seno Gumira Ajidarma, Slamet Sukirnanto

Ike Soepomo dilahirkan di Serang, Banten, 28 Agustus 1946. Menulis sejak duduk di Sekolah Menengah Pertama. Hampir seluruh novelnya telah difilmkan. Selain novel, ia menulis cerita pendek, novelet, artikel, skenario film. Karya-karyanya antara lain: Untaian yang Terberai, Anyelir Merah Jambu, Putihnya Harapan, Permata, Lembah Hijau, Malam Hening Kasih Bening, Mawar Jingga, Kembang Padang Kelabu, Kabut Sutra Ungu. Film yang didasarkan pada karyanya yang paling populer, Kabut Sutra Ungu, meraih beberapa piala “Citra” serta penghargaan Festival Film Asia di Bali. Sedangkan beberapa skenario film yang ditulisnya adalah: Hati Selembut Salju, Mawar Jingga, Hilangnya Sebuah Mahkota.

Iwan Simatupang dilahirkan di Sibolga, Sumatera Utara, 18 Januari 1928, dan meninggal di Jakarta, 4 Agustus 1970. Sastrawan yang pernah memperdalam antropologi dan filsafat di Belanda dan Perancis serta sempat meredakturi Siasat dan Warta Harian. Ia dikenal dengan novel-novelnya yang mengusung semangat eksistensialisme: Merahnya Merah (1968), Kooong (1975; mendapat hadiah Yayasan Buku Utama Departemen P dan K, 1975), Ziarah (1969), Kering (1972). Dua novel yang disebut terakhir diterjemahkan Harry Aveling ke dalam bahasa Inggris. Cerpen-cerpennya dikumpulkan dalam Tegak Lurus dengan Langit (1982), sedangkan puisi-puisinya dalam Ziarah Malam (1993).

J.E. Tatengkeng dilahirkan di Sangir-Talaud, Sulawesi Utara, 19 Oktober 1907, dan meninggal di Ujungpandang, 6 Maret 1968. Karya masyhur salah seorang pendiri Universitas Hasanuddin dan pernah menjabat Perdana Menteri NTT di tahun 1949 ini adalah Rindu Dendam (1934).

Kirdjomuljo dilahirkan di Yogyakarta, 1930, dan meninggal di kota kelahirannya, 19 Januari 2000. Karya-karyanya yang sudah diterbitkan: Romance Perjalanan I (1955), Nona Maryam (1955), Penggali Kapur (1956), Penggali Intan (1957), Dari Lembah Pualam (1967), Di Saat Rambutnya Terurai (1968), Cahaya di Mata Emi (1968), Romansa Perjalanan (1976). Karya-karyanya dapat ditemukan pula dalam Tugu (1986) dan Tonggak 2 (1987), keduanya dieditori Linus Suryadi AG.

Korrie Layun Rampan dilahirkan di Samarinda, Kalimantan Timur, 17 Agustus 1953. Pernah bekerja sebagai direktur keuangan merangkap redaktur pelaksana majalah Sarinah. Karya-karyanya tersebar di berbagai antologi, majalah dan surat kabar. Selain menerjemahkan karya-karya sastrawan dunia, ia juga telah menulis sekitar 100 judul buku cerita anak-anak. Karya-karya pentingnya antara lain: Matahari Pingsan di Ubun-ubun (1976), Upacara (1978; novel pemenang Sayembara Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta 1976), Cuaca di Atas Gunung dan Lembah (1985; meraih hadiah Yayasan Buku Utama Departemen P & K 1985), Pembicaraan Puisi Indonesia (6 jilid), Api Awan Asap (1999), Perawan (2000), Angkatan 2000 dalam Sastra Indonesia (2000), Leksikon Susastra Indonesia (2000).

Kuntowijoyo dilahirkan di Bantul, Yogyakarta, 18 September 1943. Di tahun 1974 meraih MA dari Universitas Connecticut, dan enam tahun kemudian Ph.D. dari Universitas Columbia, keduanya di Amerika Serikat. Dikenal sebagai sejarawan, novelis, penulis cerpen, esais, dan penyair. Karya-karyanya antara lain: Kereta Api yang Berangkat Pagi Hari (1966), Rumput-rumput Danau Bento (1969), Tidak Ada Waktu bagi Nyonya Fatma (1972), Barda dan Cartas (1972), Topeng Kayu (1973; mendapat hadiah kedua Sayembara Penulisan Lakon DKJ 1973), Isyarat (1976), Suluk Awang Uwung (1976), Khotbah di Atas Bukit (1976), Dinamika Umat Islam Indonesia (1985), Budaya dan Masyarakat (1987), Paradigma Islam, Interpretasi untuk Aksi (1991), Radikalisasi Petani (1993), Dilarang Mencintai Bunga-bunga (1993), Pasar (1995). Kedua cerpennya dijadikan dua judul buku antologi cerpen penting: Laki-laki yang Kawin dengan Peri dan Sampan Asmara (masing-masing cerpen terbaik harian Kompas 1994 dan 1995).

Leon Agusta dilahirkan di Sangiran, Maninjau, Sumatera Barat, 5 Agustus 1938. Karya-karyanya: Monumen Safari (1966), Catatan Putih (1976), Di Bawah Bayangan Sang Kekasih (1978), Hukla (1979), Berkemah dengan Putri Bangau (1981), Hedona dan Masochi (1984).

LK Ara lahir di Takengon, Aceh, 1937. Karya-karyanya: Angin Laut Tawar (1969), Saefuddin Kadir Tokoh Drama Gayo (1971), Serangkum Saer Gayo (1980), Namaku Bunga (1980), Anggrek Berbunga (1982), dan lain-lain. Bersama Taufiq Ismail menyunting Antologi Sastra Aceh, Seulawah (1995).

M. Fudoli Zaini dilahirkan di Sumenep, Madura, 8 Juni 1942. Meraih M.A. dan Ph. D. di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Karya-karyanya: Lagu dari Jalanan (1982), Potret Manusia (1983), Kota Kelahiran (1985; memenangkan hadiah Yayasan Buku Utama Departemen P & K, 1985), Arafah (1985), Batu-batu Setan (1994). Cerita pendeknya terdapat pula dalam Antologi Angkatan 66: Prosa dan Puisi (1968; H.B. Jassin [ed.]), Laut Biru Langit Biru (1977; Ajip Rosidi [ed.]).

M. Saribi Afn dilahirkan di Klaten, Jawa Tengah, 15 Desember 1936. Ia pernah menjadi redaktur majalah Konfrontasi, Gema Islam, Panji Masyarakat, harian Abadi. Sajaknya, “Hari Ini adalah Hari yang Penuh dengan Rahmat dan Ampunan”, meraih hadiah majalah Sastra (1962). Karya-karyanya terkumpul dalam Gema Lembah Cahaya (1962), Manifestasi (1963; [ed.]), dan diangkat pula ke dalam Angkatan 66: Prosa dan Puisi (1968; H.B. Jassin [ed.]) dan Tonggak 2 (1987; Linus Suryadi AG [ed.]).

Mansur Samin dilahirkan di Batangtoru, Sumatera Utara, 29 April 1930. Ia banyak menulis drama dan cerita anak-anak. Karya-karyanya: Perlawanan (1966), Kebinasaan Negeri Senja (1968), Tanah Air (1969), Dendang Kabut Senja (1988), Sajak-sajak Putih (1996), Sontanglelo (1996), Srabara (1996). Ia juga banyak menulis cerita anak-anak, yaitu: Hadiah Alam, Hidup adalah Kerja, Kesukaran Terkalahkan, Percik Air Batang Toru, Warna dan Kasih, dan Urip yang Tabah.

Marah Rusli dilahirkan di Padang, Sumatera Barat, 7 Agustus 1889, dan meningal di Bandung, 17 Januari 1968. Novelnya yang masyhur, Sitti Nurbaya hingga 1996 telah 22 kali dicetak ulang. Karya-karyanya yang lain: La Hami (1952), Anak dan Kemenakan (1956), otobiografi Memang Jodoh, dan novel terjemahan Gadis yang Malang (1922; Charles Dickens).

Mochtar Lubis dilahirkan di Padang, Sumatera Barat, 7 Maret 1922. Mantan wartawan LKBN Antara ini memimpin harian Indonesia Raya sejak 1951 hingga koran tersebut dilarang terbit pada 1974. Karena tulisan-tulisannya di surat kabar itu pula, selama sepuluh tahun (1956-66) ia ditahan Pemerintah Orde Lama. Sejak 1966, ia memimpin majalah sastra Horison. Ketua Yayasan Indonesia ini adalah penerima Penghargaan Magsaysay dari Pemerintah Filipina (1958), Pena Emas dari World Federation of Editor and Publisher (1967), dan Hadiah Sastra Chairil Anwar (1992) dari Dewan Kesenian Jakarta. Kumpulan cerita pendek dan novel-novelnya adalah: Si Jamal dan Cerita-cerita Lain (1951), Perempuan (1956; mendapat Hadiah Sastra Nasional BMKN 1955-56), Kuli Kontrak (1982), Bromocorah (1983), Tak Ada Esok (1951), Jalan Tak Ada Ujung (1952; memperoleh Hadiah Sastra Nasional BMKN 1952), Tanah Gersang (1966), Senja di Jakarta (1970), Harimau! Harimau! (1975; mendapat hadiah Yayasan Buku Utama Departemen P & K 1975), Maut dan Cinta (1977). Karya-karya terjemahannya: Tiga Cerita dari Negeri Dolar (1950; John Steinbeck, Upton Sinclair, John Russel), Orang Kaya (1950; F. Scott Fitzgerald), Yakin (1950; Irwin Shaw), Kisah-kisah dari Eropah (1952), dan Cerita dari Tiongkok (1953).

Mohammad Diponegoro dilahirkan di Yogyakarta, 28 Juni 1928, dan meninggal di kota yang sama, 9 Mei 1982. Karya-karya pendiri dan pemimpin Teater Muslim yang pernah menjadi Wakil Pimpinan Umum/Wakil Pemimpin Redaksi Suara Muhammadiyah (1975-82) ini antara lain: Surat pada Gubernur, Kabar Wigati dan Kerajaan (1977), Duta Islam untuk Dunia Modern (1983; bersama Ahmad Syafii Maarif), Iblis (1983), Percik-percik Pemikiran Iqbal (1983), Siasat (1984), Yuk, Nulis Cerpen, Yuk (1985), Odah dan Cerita Lainnya, dan antologi puisi Manifestasi (1963).

Motinggo Busye dilahirkan di Kupangkota, Lampung, 21 November 1937, dan meninggal di Jakarta, 18 Juni 1999. Menulis banyak novel, menyutradarai film, dan melukis. Karya-karyanya antara lain: drama Malam Jahanam (1958; memenangkan hadiah pertama Sayembara Penulisan Drama Departemen P & K 1958), novel Malam Jahanam (1962), Badai Sampai Sore (1962), Tidak Menyerah (1962), Keberanian Manusia (1962), 1949 (1963), Bibi Marsiti (1963), Hari Ini Tidak Ada Cinta (1963), Perempuan Itu Bernama Barabah (1963), Dosa Kita Semua (1963), Tiada Belas Kasihan (1963), Nyonya dan Nyonya (1963), Sejuta Matahari (1963), Matahari dalam Kelam (1963), Nasehat untuk Anakku (1963), Malam Pengantin di Bukit Kera (1963), Cross Mama (1966), Tante Maryati (1967), Sri Ayati (1968), Retno Lestari (1968), Dia Musuh Keluarga (1968), Madu Prahara (1985). Cerita pendeknya, “Dua Tengkorak Kepala”, terpilih sebagai cerpen terbaik Kompas dan dipublikasikan dalam kumpulan cerita pendek berjudul sama (2000).

Muhammad Ali dilahirkan di Surabaya, Jawa Timur, 23 April 1927, dan meninggal di kota itu juga, 2 Juni 1998. Menulis sejak 1942. Tulisan-tulisannya terdiri dari novel, cerita pendek, puisi, drama. Karya-karyanya yang telah diterbitkan antara lain: 5 Tragedi (1952), Kubur Tak Bertanda (1953), Siksa dan Bayangan (1954), Di Bawah Naungan Al-Qur`an (1957), Hitam Atas Putih (1959), Si Gila (1969), Kembali kepada Fitrah (1969), Qiamat (1971), Bintang Dini (1975), Buku Harian Seorang Penganggur (1976), Nyanyian Burdah (1980), Teknik Penghayatan Puisi (1983).

Muhammad Yamin dilahirkan di Sawahlunto, Sumatera Barat, 23 Agustus 1903, dan meninggal di Jakarta, 17 Oktober 1962. Menulis (dan menerjemahkan) karya sastra dan sejarah dalam berbagai bentuk: puisi, drama, biografi. Antara lain: Tanah Air (1922), Indonesia Tumpah Darahku (1928), Kalau Dewi Tara Sudah Berkata (1932), Ken Arok dan Ken Dedes (1934), Gajah Mada Pahlawan Persatuan Nusantara (1945), Menantikan Surat dari Raja (1928; Rabindranath Tagore), Di Dalam dan di Luar Lingkungan Rumah Tangga (1933), Pangeran Dipanegara (1950), Lukisan Revolusi (1950), Julius Caesar (1951; William Shakespeare). Puisi-puisi penyair yang memperkenalkan soneta ke dalam khasanah puisi Indonesia ini dapat ditemukan pula dalam Antologi Pujangga Baru: Prosa dan Puisi (1963; H.B. Jassin [ed.]), Tonggak (1987; Linus Suryadi AG [ed.]).

Mustofa Bisri dilahirkan di Rembang, 10 Agustus 1944. Sering menggunakan nama samaran M. Ustov Abi Sri. Lulusan Universitas Al-Azhar (Kairo, Mesir) ini kerap mengikuti forum baca puisi, termasuk di Festival Mirbid X di Irak. Karya-karyanya dimuat dalam sejumlah antologi puisi bersama, antara lain: Puisi Syukuran Tutup Tahun 1989; Bosnia Kita; Parade Puisi Indonesia; Antologi Puisi Jawa Tengah. Kumpulan puisi tunggalnya adalah: Ohoi; Tadarus; dan Pahlawan dan Tikus.

N. Riantiarno dilahirkan di Cirebon, Jawa Barat, 6 Juni 1949. Peserta International Writing Program di Iowa University, Amerika Serikat, pada 1978 yang dikenal pula sebagai pendiri dan pemimpin Teater Koma ini, membidani kelahiran majalah Zaman dan terakhir memimpin majalah Matra. Karya-karyanya antara lain Opera Kecoa, Ranjang Bayi dan Percintaan Senja (kedua novel yang disebut terakhir masing-masing memenangkan sayembara majalah Femina dan Kartini), Semar Gugat (1995), Cinta Yang Serakah (1978).

Nasjah Djamin dilahirkan di Perbaungan, Sumatera Utara, 24 Desember 1924, dan meninggal di Yogyakarta, 4 September 1997. Penerima Anugerah Seni Pemerinta RI di tahun 1970 yang sebelum menjadi redaktur Budaya dan bekerja di Bagian Kesenian Departemen P & K di Yogyakarta, hingga pensiunnya, pernah ikut mendirikan Angkatan Seni Rupa di Medan (1945) dan Gabungan Pelukis Indonesia di Jakarta (1948). Karya-karyanya antara lain: Titik-titik Hitam (1956), Sekelumit Nyanyian Sunda (1958; memenangan Hadiah Sastra nasional BMKN 1957-58), Hilanglah si Anak Hilang (1963), Helai-helai Sakura Gugur (1964), Gairah untuk Hidup dan untuk Mati (1968), Dan Senja Pun Turun (1982), Ombak Parangtritis (1983; mendapat Hadiah Yayasan Buku Utama Departemen P & K 1983), Bukit Harapan (1984; pemenang hadiah Sayembara Mengarang Roman DKJ 1980).

Nh. Dini dilahirkan di Semarang, Jawa Tengah, 29 Februari 1936. Karya-karyanya: Dua Dunia (1956), Hati yang Damai (1961), Pada Sebuah Kapal (1973), La Barka (1975), Keberangkatan (1977), Namaku Hiroko (1977), Sebuah Lorong di Kotaku (1978), Padang Ilalang di Belakang Rumah (1979), Langit dan Bumi Sahabat Kami (1979), Sekayu (1981), Amir Hamzah Pangeran dari Seberang (1981), Kuncup Berseri (1982), Tuileries (1982), Segi dan Garis (1983), Orang-orang Tran (1985), Pertemuan Dua Hati (1986), Jalan Bandungan (1989), Liar (1989; perubahan judul kumpulan cerita pendek Dua Dunia), Istri Konsul (1989), Tirai Menurun (1995), Panggilan Dharma Seorang Bhikku Riwayat Hidup Saddhamma Kovida Vicitta Bhanaka Girirakkhitto Mahathera (1996), Kemayoran (2000).

Nugroho Notosusanto dilahirkan di Rembang, Jawa Tengah 15 Juli 1931, dan meninggal di Jakarta, 2 Juni 1985. Karya-karya sastrawan dan sejarawan yang pernah menjabat Rektor Universitas Indonesia (1982-85) dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI (1983-85) ini antara lain: Hujan Kepagian (1958), Tiga Kota (1959), Rasa Sayang (1961), Hijau Tanahku Hijau Bajuku (1963), Norma-norma dasar Penelitian Sejarah Kontemporer (1978), Tentara Peta pada Zaman Pendudukan Jepang (1979), Sejarah dan Sejarawan, Tercapainya Konsesus Nasional 1966-1969 (1985), Sejarah Nasional Indonesa I-IV (bersama Marwati Djoened Poesponegoro), dan sejumlah karya terjemahan.

Nur Sutan Iskandar dilahirkan di Maninjau, Sumatera Barat, 3 November 1893, dan meninggal di Jakarta, 28 November 1975. Menulis novel Apa Dayaku karena Aku Perempuan (1922), Karam dalam Gelombang Percintaan (1924; ditulis bersama Abd. Ager). Cinta yang Membawa Maut (1926; ditulis bersama Abd. Ager), Salah Pilih (1928), Karena Mentua (1932), Tuba Dibalas dengan Air Susu (1933; ditulis bersama Asmaradewi); Hulubalang Raja (1934), Katak Hendak Menjadi Lembu (1935), Dewi Rimba (1935; ditulis bersama M. Dahlan), Neraka Dunia (1937), Cinta dan Kewajiban (1940; ditulis bersama L. Wairata), Cinta Tanah Air (1944), Mutiara (1946), Cobaan (1946), Jangir Bali (1946), Pengalaman Masa Kecil (1949), dan Turun ke Desa (1949). Ia pun menerjemahkan sejumlah karya sastra dunia, yaitu: Tiga Panglima Perang (1925; Alexander Dumas), Belut Kena Ranjau (1925; Baronese Orczy), Anjing Setan (1928; A. Conan Doyle), Graaf de Monte Cristo (1929; 6 jilid, Alexander Dumas), Anak Perawan di Jalan Sunyi dan Rahasia Seorang Gadis (1929; A. Conan Doyle, diterjemahkan bersama K. St. Pamoentjak), Gudang Intan Nabi Sulaiman (1929; H. Rider Haggard), Memperebutkan Pusaka Lama (1932; Edward Keyzer), Iman dan Pengasihan (1933; Henryk Sienkiewicz), dan Cinta dan Mata (tt; Rabindranath Tagore).

Piek Ardijanto Soeprijadi dilahirkan di Magetan, Jawa Timur, 12 Agustus 1929. Karya-karya penyair yang mengabdikan sebagian besar usianya sebagai seorang guru ini antara lain: Burung-burung di Ladang (1983), Percakapan Cucu dengan Neneknya (1983), Desaku Sayang (1983), Lagu Bening dari Rawa Pening (1984; mendapat Hadiah Yayasan Buku Utama Departemen P & K 1984), Menyambut Hari Sumpah Pemuda (1984), Lelaki di Pinggang Bukit (1984), Nelayan dan Laut (1995), Biarkan Angin Itu (1996). Selain itu, dimuat pula dalam antologi Angkatan 66: Prosa dan Puisi (1968; H.B. Jassin [ed.]), Tonggak 2 (1987; Linus Suryadi AG [ed.]).

Pramudya Ananta Toer dilahirkan di Blora, Jawa Tengah, 6 Februari 1925. Novelis Indonesia paling produktif dan terkemuka yang pernah meredakturi ruang kebudayaan “Lentera” Harian Rakyat (1962-65) dan dosen di Universitas Res Publica Jakarta ini, setelah peristiwa G30S/PKI ditahan di Jakarta dan Pulau Buru sebelum akhirnya dibebaskan pada 1979. Karya-karyanya telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, antara lain: Inggris, Perancis, Jerman, Rusia, Jepang. Novel-novelnya yang telah diterbitkan: Kranji-Bekasi Jatuh (1947), Perburuan (1950; pemenang Hadiah Pertama Sayembara Balai Pustaka 1949), Keluarga Gerilya (1950), Mereka yang Dilumpuhkan (1951), Bukan Pasar Malam (1951), Di Tepi Kali Bekasi (1951), Gulat di Jakarta (1953), Maidah, Si Manis Bergigi Emas (1954), Korupsi (1954), Suatu Peristiwa di Banten Selatan (1958; menerima Hadiah Sastra Yayasan Yamin 1964, dan ditolak pengarangnya), Bumi Manusia (1980), Anak Semua Bangsa (1980), Jejak Langkah (1985), Gadis Pantai (1985), Rumah Kaca (1987), Arus Balik (1995), Arok Dedes (1999). Cerita-cerita pendeknya dikumpulkan dalam: Subuh (1950), Percikan Revolusi (1950), Cerita dari Blora (1952; memperoleh Hadiah Sastra Nasional BMKN 1952), Cerita dari Jakarta (1957; meraih Hadiah Sastra Nasional BMKN 1957-58, dan ditolak oleh penulisnya). Sedangkan karya-karya terjemahannya antara lain: Tikus dan Manusia (1950; John Steinbeck), Kembali kepada Cinta Kasihmu (1950; Leo Tolstoy), Perjalanan Ziarah yang Aneh (1956; Leo Tolstoy), Kisah Seorang Prajurit Soviet (1956; Mikhail Solokhov), Ibu (1956; Maxim Gorky), Asmara dari Rusia (1959; Alexander Kuprin), Manusia Sejati (1959; Boris Pasternak). Selain itu, ia juga menulis memoar, esai, dan biografi.

Putu Wijaya dilahirkan di Tabanan, Bali, 11 April 1944. Karya-karya dramawan dan penulis cerita pendek paling produktif di Indonesia yang atas undangan Fulbright pernah mengajar di Amerika Serikat antara 1985-89 antara lain: Telegram (1972; novel yang memenangkan hadiah Sayembara Mengarang Roman DKJ 1971), Stasiun (1977; novel pemenang hadiah Sayembara Mengarang Roman DKJ 1971), Dar-Der-Dor (1996), Aus (1996), Zigzag (1996), Tidak (1999). Sejumlah karyanya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Belanda, Rusia, Perancis, Jerman, Jepang, Arab, dan Thailand. Pada tahun 1991, atas prestasi dan pencapaiannya dalam bidang kebudayaan, ia menerima Anugerah Seni dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Rahim Qahhar dilahirkan di Medan, Sumatera Utara, 29 Juni 1943. Menulis puisi, cerita pendek, drama, novel, dan skenario televisi. Karya-karyanya: Mabukku pada Bali (1983), Abraham ya Abraham (1984), Langit Kirmizi (1987; terbit di Malaysia), Melati Merah (1988; terbit di Malaysia), Sajak Buat Saddam Husein (1991). Selain itu, karyanya dimuat pula dalam sejumlah antologi penting, antara lain: Cerpen-cerpen Nusantara Mutakhir (1991; Suratman Markasan [ed.]).

Ramadhan KH dilahirkan di Bandung, Jawa Barat, 16 Maret 1927. Mantan redaktur majalah Kisah, Siasat Baru, dan Budaya Jaya yang banyak menulis buku biografi dan pernah lama mukim di luar negeri ini adalah penulis kumpulan puisi Priangan si Jelita (1958; memenangkan Hadiah Sastra Nasional BMKN 1957-58), dan novel-novel Kemelut Hidup (1976; pemenang Sayembara Mengarang Roman DKJ 1974), Keluarga Permana (1978; pemenang Sayembara Mengarang Roman DKJ 1976). Novelnya yang lain, Ladang Perminus, membawa pengarang ini ke Thailand, menerima SEA Write Award 1993.

Rayani Sriwidodo dilahirkan di Kotanopan, Sumatera Utara 6 November 1946. Cerpennya “Balada Satu Kuntum” memperoleh penghargaan Nemis Prize dari Pemerintah Chile (1987). Karya-karya alumna Iowa Writing Program, Iowa University, Amerika Serikat ini antara lain: Pada Sebuah Lorong (1968; bersama Todung Mulya Lubis), Kereta Pun Terus Berlalu, Percakapan Rumput, Percakapan Hawa dan Maria (1989), Balada Satu Kuntum (1994), Sembilan Kerlip Cermin (2000).

WS Rendra dilahirkan di Solo, Jawa Tengah, 7 November 1935. Sepulang memperdalam pengetahuan drama di American Academy of Dramatical Arts, ia mendirikan Bengkel Teater. Sajak-sajaknya mulai dikenal luas sejak tahun 1950-an. Antara April-Oktober 1978 ditahan Pemerintah Orde Baru karena pembacaan sajak-sajak protes sosialnya di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Kumpulan puisinya: Balada Orang Tercinta (1956; meraih Hadiah Sastra Nasional BMKN 1955-56), Empat Kumpulan Sajak (1961), Blues untuk Bonnie (1971), Sajak-sajak Sepatu Tua (1972), Potret Pembangunan dalam Puisi (1983), Disebabkan oleh Angin (1993), Orang-orang Rangkasbitung (1993), Perjalanan Bu Aminah (1997), Mencari Bapak (1997). Buku-buku puisinya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, yaitu: Indonesian Poet in New York (1971; diterjemahkan Harry Aveling, et.al.), Rendra: Ballads and Blues (1974; Harry Aveling, et.al.), Contemporary Indonesian Poetry (1975; diterjemahkan Harry Aveling). Ia pun menerjemahkan karya-karya drama klasik dunia, yaitu: Oidipus Sang Raja (1976), Oidipus di Kolonus (1976), Antigone (1976), ketiganya karya Sophocles, Informan (1968; Bertolt Brecht), SLA (1970; Arnold Pearl). Pada 1970, Pemerintah RI memberinya Anugerah Seni, dan lima tahun setelah itu, ia memperoleh penghargaan dari Akademi Jakarta.

Rusli Marzuki Saria dilahirkan di Bukittinggi, Sumatera Barat, 26 Februari 1936. Karya-karyanya: Pada Hari Ini pada Jantung Hari (1966), Monumen Safari (1966; dengan Leon Agusta), Ada Ratap Ada Nyanyi (1976), Sendiri-sendiri Sebaris-sebaris dan Sajak-sajak Bulan Februari (1976), Tema-tema Kecil (1979), Sembilu Darah (1995), Parewa, Sajak dalam Lima Kumpulan (1988). Manuskrip esainya: Monolog dalam Renungan.

Rustam Effendi dilahirkan di Padang, 13 Mei 1903, dan meninggal di Jakarta, 24 Mei 1979. Bebasari yang ditulisnya pada 1926 merupakan drama bentuk baru dalam sastra Indonesia. Selain itu ia menulis kumpulan puisi Percik Permenungan (1926) dan Van Moskow naar Tiflis (tt.)

Saini K.M. dilahirkan di Sumedang, Jawa Barat, 16 Juni 1938. Penyair yang bertahun-tahun mengasuh rubrik “Pertemuan Kecil” di Pikiran Rakyat Bandung ini terakhir menjabat Direktur Jenderal Kesenian Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI. Sejumlah penyair yang lahir dan berkembang dari kelembutan dan ketajaman kritiknya di “Pertemuan Kecil” antara lain: Sanento Yuliman, Acep Zamzam Noor, Agus R. Sarjono, Soni Farid Maulana, Beni Setia, Cecep Syamsul Hari. Karya-karyanya meliputi puisi, karya sastra drama, dan esai, di antaranya: Pangeran Sunten Jaya (1973), Ben Go Tun (1977), Egon (1978), Serikat Kaca Mata Hitam (1979), Sang Prabu (1981), Kerajaan Burung (1980; pemenang Sayembara Direktorat Kesenian Depdikbud), Sebuah Rumah di Argentina (1980), Pangeran Geusan Ulun (1963), Nyanyian Tanah Air (1968), Puragabaya (1976), Siapa Bilang Saya Godot (1977), Restoran Anjing (1979), Rumah Cermin (1979), Beberapa Gagasan Teater (1981), Panji Koming (1984), Beberapa Dramawan dan Karyanya (1985), Ken Arok (185), Apresiasi Kesusastraan (1986; bersama Jakob Sumardjo [ed.]), Protes Sosial dalam Sastra (1986), Teater Modern Indonesia dan Beberapa Masalahnya (1987), Sepuluh Orang Utusan (1989), Puisi dan Beberapa Masalahnya (1993; Agus R. Sarjono [ed.]). Buku terakhirnya yang merupakan seleksi dari seluruh kumpulan puisinya yang sudah maupun yang belum dipublikasikan adalah Nyanyian Tanah Air (2000).

Sanento Yuliman dilahirkan di Banyumas, Jawa Tengah, 14 Juli 1941, dan meninggal di Bandung, 14 Juli 1992. Pada 1981 menyelesaikan program doktoralnya di Ecole de Hautes Etudes en Science Sociale, Paris, Perancis. Penyair yang juga dikenal sebagai penulis esai dan kritikus seni rupa yang disegani ini pernah menjadi redaktur Mahasiswa Indonesia, majalah sastra Horison (1971-73), dan Aktuil, khususnya untuk ruang “Puisi Mbeling”. Puisi-puisinya diangkat Ajip Rosidi ke dalam Laut Biru Langit Baru (1977). Karya-karyanya antara lain: Seni Rupa Indonesia (1976), G. Sidharta di Tengah Seni Rupa Indonesia (1981; bersama Jim Supangkat).

Sanusi Pane dilahirkan di Muara Sipongi, Sumatera Utara, 14 November 1905, dan meninggal di Jakarta, 2 Januari 1968. Antara tahun 1931-41, pernah menjadi redaktur di majalah Timbul, harian Kebangunan, dan Balai Pustaka. Karya-karyanya meliputi puisi, drama, sejarah, dan terjemahan: Pancaran Cinta (1926), Puspa Mega (1927), Airlangga (1928), Burung Garuda Terbang Sendiri (1929), Madah Kelana (1931), Kertajaya (1932), Sandyakalaning Majapahit (1933), Manusia Baru (1940), Sejarah Indonesia (1942), Indonesia Sepanjang Masa (1952), Bunga Rampai dari Hikayat Lama (1946; terjemahan dari bahasa Kawi), Arjuna Wiwaha (1940; Mpu Kanwa, diterjemahkan dari bahasa Kawi), Gamelan Jiwa (1960).

Sapardi Djoko Damono dilahirkan di Solo, Jawa Tengah, 20 Maret 1940. Puisi-puisi pengajar di Fakultas Sastra Universitas Indonesia sejak 1975 dan pernah aktif sebagai redaktur majalah sastra-budaya Basis, Horison, Kalam, Tenggara (Malaysia) ini adalah: Duka-Mu Abadi (1969), Mata Pisau (1974), Perahu Kertas (1983; mendapat Hadiah sastra DKJ 1983), Sihir Hujan (1984; pemenang hadiah pertama Puisi Putera II Malaysia 1983), Hujan Bulan Juni (1994), Arloji (1998), Ayat-ayat Api (2000). Sedangkan karya-karya sastra dunia yang diterjemahkannya: Lelaki Tua dan Laut (1973; Ernest Hemingway), Sepilihan Sajak George Seferis (1975), Puisi Klasik Cina (1976), Lirik Klasik Parsi (1977), Afrika yang Resah (1988; Okot p’Bitek).

Satyagraha Hoerip dilahirkan di Lamongan, Jawa Timur, 7 April 1934, dan meninggal di Jakarta, 14 Oktober 1998. Tahun 1972-73, ia mengikuti International Writing Program di Iowa University, Amerika Serikat, dan pernah menjadi dosen tamu di universitas-universitas di Amerika dan Jepang. Karya-karyanya antara lain: Bisma Baneng Mayapada (1960), Sepasang Suami Isteri (1964), Antologi Esai tentang Persoalan Sastra (1969), Cerita Pendek Indonesia 1-3 (1979), Jakarta: 30 Cerita Pendek Indonesia 1-3 (1982), Palupi (1970), Keperluan Hidup Manusia (1963; terjemahan dari Leo Tolstoy), Tentang Delapan Orang (1980), Sesudah Bersih Desa (1990), Sarinah Kembang Cikembang (1993).

Selasih dilahirkan di Talu, Sumatera Barat, 31 Juli 1909, dam meninggal pada usia 86 tahun. Sastrawan yang pernah menjadi Ketua Jong Islamieten Bond Bukittingi (1928-30) dikenal pula sebagai Sariamin atau Seleguri. Karya-karyanya: Kalau Tak Untung (1933), Pengaruh Keadaan (1937), Rangkaian Sastra (1952), Panca Juara (1981), Nakhoda Lancang (1982), Cerita Kak Mursi, Kembali ke Pangkuan Ayah (1986), dan dimuat pula dalam Puisi Baru (1946; Sutan Takdir Alisjahbana [ed.]), Seserpih Pinang Sepucuk Sirih (1979; Toeti Heraty [ed.]), Ungu: Antologi Puisi Wanita Penyair Indonesia (Korrie Layun Rampan [ed.]).

Seno Gumira Ajidarma dilahirkan di Boston, Amerika Serikat, 19 Juni 1958. Karya-karya penulis cerita pendek yang sejak 1985 bekerja di majalah Jakarta Jakarta ini antara lain: Mati Mati Mati (1978), Bayi Mati (1978), Catatan Mira Sato (1978), Manusia Kamar (1978), Penembak Misterius (1993), Saksi Mata (1994; kumpulan cerita pendek terbaik versi Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Depdikbud RI 1994), Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi (1995), Negeri Kabut (1996), Jazz, Parfum, dan Insiden (1992). Cerpennya, “Pelajaran Mengarang”, dipilih sebagai cerpen terbaik Kompas 1992, dan cerpen-cerpennya yang lain hampir setiap tahun terpilih masuk dalam antologi cerpen terbaik surat kabar itu. Pada 1995 ia memperoleh penghargaan SEA Write Award.

Slamet Sukirnanto dilahirkan di Solo, Jawa Tengah, 3 Maret 1941. Karya-karya penyair yang mantan Ketua Presidium KAMI pusat ini adalah: Jaket Kuning (1967), Kidung Putih (1967), Sumur Tanpa Dasar (1971), Kasir Kita (1972), Pemberang (1972), Tengul (1973), Orkes Madun (1974), Gema Otak Terbanting (1974), Bunga Batu (1979), Catatan Suasana (1982), dan Luka Bunga (1993).
Diposting oleh uplot pada 5:04 AM 0 komentar
Label: Ike Soepomo, Iwan Simatupang, Marah Rusli, Sanusi Pane, Sapardi Djoko Damono, Satyagraha Hoerip, Selasih, Seno Gumira Ajidarma

Kembalikan Martabat Bahasa Tegal Kompas Senin, 25 September 2006
Di layar televisi kita mudah menjumpai figur publik, terutama artis yang memakai bahasa Tegal untuk berkomunikasi. Nama seperti Parto Patrio, Cici Tegal, dan Eman adalah artis yang lekat dengan dialek itu. Padahal, mereka bukan orang Tegal asli. Mereka hanya numpang karakter lewat dialek Tegal sebagai alat melucunya.
Seringnya penggunaan bahasa Tegal sebagai alat melawak, membuat banyak orang mencitrakan Tegal sebagai bahasa yang lucu. Padahal, sebagaimana bahasa daerah yang lain, bahasa Tegal, atau sejumlah orang menyebutkan sebagai bahasa Jawa dialek Tegal, juga merupakan bahasa yang "serius". Ia merupakan pencerminan karakter orang Tegal dan sekitarnya yang juga berkecenderungan serius.
"Orang selama ini kurang proporsional dalam menempatkan bahasa Tegal. Mereka memandang bahasa ini hanya untuk lawakan. Padahal, bahasa Tegal juga merupakan sarana komunikasi sosial yang serius bagi masyarakat Tegal dan sekitarnya," papar ahli bahasa Tegalan, Mochamad Hadi Utomo, pekan lalu di Tegal.
Dalam tipologi masyarakat Jawa, khususnya Jawa Tengah, bahasa Tegal hanya dianggap sebagai subkultur dari bahasa Jawa. Pandangan itu sudah bertahan ratusan tahun. Bahasa Tegal ditempatkan sebagai bahasa kelas dua dibanding bahasa Jawa yang berkiblat kepada budaya Surakarta dan Yogyakarta.
Pandangan itu muncul karena proses sejarah sosial dan politik di Jawa yang cenderung didominasi wong wetanan atau orang timur yang berasal dari wilayah Mataraman. Sejak zaman Mataram Islam, hampir semua pemimpin atau penguasa di wilayah Tegal berasal dari priayi wetanan atau kaum bangsawan dari Timur, terutama dari Surakarta dan Yogyakarta.
Menurut Hadi Utomo, priayi wetanan itu cenderung membawa budaya dan dialek kejawaannya dalam berkomunikasi kepada masyarakat dan birokrasinya. Ini membuat secara politik posisi bahasa dan dialek Jawa di wilayah Tegal dan sekitarnya lebih elite dan dianggap lebih luhur dibandingkan dengan dialek Tegal. Birokrat dan punggawa kadipaten ikut-ikutan memakai dialek Jawa.
"Bahasa Tegal pun hanya dikenal untuk masyarakat kelas bawah. Akibatnya, orang Tegal mau berbicara dengan bahasa Tegal cenderung rendah diri, terutama jika sudah ke luar daerah," paparnya. Mulai zaman kerajaan Mataram, penjajahan Belanda, Orde Lama, dan Orde Baru, kata Hadi, kepala daerah di wilayah Tegal dan sekitarnya selalu berasal dari priayi wetanan. Baru pada era reformasi muncul pemimpin dari putra daerah, yaitu Bupati Agus Riyanto, yang kini masih menjabat.
Dominasi sosial politik dari budaya Jawa dan citra sebagai bahasa lawakan ini membuat masyarakat Tegal kurang percaya diri dengan ketegalannya. Tak pelak, bila pengembangan bahasa Tegal pun sangat sulit. Unit keluarga saat ini banyak yang memilih menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa Jawa sebagai alat komunikasi.
Padahal, dilihat dari sejarahnya, kata Hadi Utomo, bahasa Tegal berusia lebih tua daripada bahasa Jawa. Inti bahasa Tegal adalah bahasa Jawa Kuna. Dalam proses sejarah, bahasa Jawa Kuna yang berkembang di Brebes, Tegal, Pemalang, dan Pekalongan itu bertemu dengan bahasa lain mulai dari Sunda, Cirebon, Jawa, Madura, Arab, China, bahkan Belanda.
Tak heran bila beberapa kosakata bahasa Tegal ada yang mirip bahasa Belanda, misalnya kata maju yang dalam bahasa Tegalnya poret. Poret berasal dari kata Belanda, yaitu voor uit. Ada pula kata brug yang berarti ’jembatan’. Istilah brug berasal dari bahasa Belanda yang juga berarti ’jembatan’.
"Orang Tegal menyebut pacar itu gerel. Ini berasal dari kata girl dalam bahasa Inggris. Kata ciu, misalnya, yang berasal dari bahasa China," ungkapnya.
Sastra
Pengembangan sastra Tegal pun tersendat. Hingga kini belum ada karya sastra bernuansa Tegal yang tumbuh dengan solid.
Kondisi seperti ini dipahami seniman setempat. Mulai tahun 1994, seniman muda Tegal dan sekitarnya, termasuk Brebes dan Pemalang, mulai mencoba mengembangkan karya sastra Tegalan, salah satunya yang sudah dirintis adalah puisi Tegalan.
"Memang belum ada konsep mengenai puisi Tegalan ini. Dalam sejarahnya pun, puisi Tegalan tidak pernah menjadi tradisi. Tetapi yang pasti, puisi Tegalan adalah puisi yang menggunakan bahasa Tegal. Tujuan kami mengembangkannya adalah agar bahasa Tegal lebih dihargai, dan bukan hanya dianggap sebagai bahasa lawakan," papar pelopor sastra Tegalan Lanang Setiyawan.
Lanang bersama sejumlah seniman asal Tegal membentuk Komunitas Sastra Tegalan. Selain mencipta puisi Tegalan, komunitas ini juga mengembangkan seni gerak, baik dalam bentuk fragmen maupun teater.
Khusus untuk puisi Tegalan, beberapa kali Lanang dan kawan-kawan menciptakan puisi dengan menerjemahkan puisi sastrawan terkenal ke dalam bahasa Tegal, salah satunya adalah puisi terkenal WS Rendra berjudul Nyanyian Angsa yang diganti menjadi Tembangan Banyak. Puisi ini merupakan tonggak kali pertama puisi Tegalan dikenal masyarakat.
Sejak tahun 2005, Pemerintah Kabupaten Tegal mulai memahami pentingnya pengembangan sastra Jawa bagi pemberdayaan bahasa Tegal. Berbagai kegiatan kesastraan Tegal digelar pemkab dengan melibatkan berbagai kalangan, terutama seniman. "Sastra Tegalan ini selain cukup penting untuk nguri-uri budaya Tegal, juga penting untuk menyatukan masyarakat Tegal dan komunitas yang memakai bahasa ini," ujar Agus.
Namun, untuk mengangkat martabat bahasa Tegal lewat karya sastra tidaklah mudah. Apresiasi masyarakat Tegal masih rendah karena mereka tak terbiasa dengan karya sastra dalam dialek setempat.
Persoalan lain, kata Lanang, adalah tidak diajarkannya bahasa Tegal secara formal dalam proses belajar mengajar di sekolah. Masyarakat pengguna bahasa Tegal yang ada di Tegal, Brebes, Pemalang, hingga Pekalongan dianggap sebagai masyarakat Jawa. Akibatnya, pengajaran bahasa daerah untuk siswa di daerah itu memakai bahasa Jawa.
"Padahal, berbeda sekali kondisi yang sebenarnya. Dalam keseharian, masyarakat sini masih memakai bahasa Tegal, bukan bahasa Jawa. Mereka tidak tahu persis bahasa Jawa. Pemerintah harus memahami ini," ujar Lanang. (M Burhanudin)

10/16/2008

Pejabat dan Puisi


Semangat Tak Kenal Pensiun

Meski usia senja/ jangan pernah jadi beban// teruslah semangat rela berkorban/ demi amanah yang telah engkau emban/ tuk meningkatkan kadar keimanan// Jangan pernah merasa susah/ teruslah engkau mendesah/ menyebut asmaYang Maha Esa/ kutahu pasti kau bisa// jangan pernah ada keinginan berhenti/ lanjutkan langkah meniti/ dengan penuh ketulusan hati/ engkau akan sampai pada dzat yang inti// Setelah engkau pasrah/ kepada Yang Maha Pemurah/ maka niscaya makin tercurah/ berbagai macam anugerah//
(11 Syawal 1429 H- 16 Okt. 2008)

Puisi berjudul 'Jangan Jadi Beban' karya Wakil Walikota Tegal, Dr Maufur isinya sangat bagus untuk membangkitkan semangat, khususnya bagi para purnakaryawan, agar senantiasa mengabdi dan berbakti tanpa henti. Apresiasi itu disampaikan mantan Kepala Sekolah SMPN 10, H Sudaryono, Kamis (16/10) dalam acara Halal Bihalal Keluarga Besar Ikatan Purnakaryawan Pendidikan Kebudayaan (IKKP) Kota Tegal di Sanggar Pramuka Kota Tegal.
"Isi puisi itu sedikitnya mengandung tiga pesan sangat bagus bagi kita yang lanjut usia. Agar senantiasa bersemangat dalam hidup, tidak putus asa serta semakin pasrah kehadiratNya," kata H Sudaryono.
Menurutnya, semangat jiwa dan raga dalam mengabdi dan berbakti kepada bangsa dan negara tak ada pensiunnya. Disamping itu, manusia sebagai hamba Allah, pada usianya yang senja harus semakin meningkatkan kekhusuan dalam beribadah, meningkatkan iman dan takwa kepada sang Khalik.
"Secara khusus, pesan dan puisi itu sangat memberikan semangat pada kaum pensiunan pendidikan," tandas mantan Pengawas Dikmenum Kabupaten Tegal, H Sudaryono.
'Jangan Jadi Beban' yang dibaca Dr Maufur di hadapan keluarga besar IKKP itu, pada tiap baitnya merupakan ikhtisar dari hakikat hidup bagi setiap manusia di dunia dengan berbagai aktivitasnya. Diharapkan aktivitas manusia itu dapat membuahkan hasil yang bermanfaat bagi dirinya, orang lain dalam kurun waktu yang berkelanjutan.
Dr Maufur menyontohkan, sebagaimana profesi guru dengan keberhasilannya dalam bidang mendidik anak bangsa. "Indikasi guru yang berhasil itu yang muridnya bukan menjadi murid lagi, bahkan telah menjadi gurunya," katanya (ham)

10/15/2008

syair lagu Umbrella

Rihanna - Umbrella

[Intro: Jay-Z]
Ahuh Ahuh (Yea Rihanna)
Ahuh Ahuh (Good girl gone bad)
Ahuh Ahuh (Take three... Action)
Ahuh Ahuh

No clouds in my storms
Let it rain, I hydroplane in the bank
Coming down with the Dow Jones
When the clouds come we gone, we Rocafella
She fly higher than weather
And G5’s are better, You know me,
An anticipation, for precipitation. Stacked chips for the rainy day
Jay, Rain Man is back with little Ms. Sunshine
Rihanna where you at?

[Rihanna]
You have my heart -
And we'll never be worlds apart
May be in magazines
But you'll still be my star (bimestar)
Baby cause in the dark
You can't see shiny cars
And that's when you need me there
With you I'll always share
Because

[Chorus]
When the sun shines, we’ll shine together
Told you I'll be here forever
Said I'll always be a friend
Took an oath I'ma stick it out till the end
Now that it's raining more than ever
Know that we'll still have each other
You can stand under my umbrella
You can stand under my umbrella
(Ella ella eh eh eh)
Under my umbrella
(Ella ella eh eh eh)
Under my umbrella
(Ella ella eh eh eh)
Under my umbrella
(Ella ella eh eh eh eh eh eh)

These fancy things, will never come in between
You're part of my entity, here for Infinity
When the war has took it's part
When the world has dealt it's cards
If the hand is hard, together we'll mend your heart
[ Umbrella lyrics found on http://www.completealbumlyrics.com ]
Because

[Chorus]
When the sun shines, we’ll shine together
Told you I'll be here forever
Said I'll always be a friend
Took an oath I'ma stick it out till the end
Now that it's raining more than ever
Know that we'll still have each other
You can stand under my umbrella
You can stand under my umbrella
(Ella ella eh eh eh)
Under my umbrella
(Ella ella eh eh eh)
Under my umbrella
(Ella ella eh eh eh)
Under my umbrella
(Ella ella eh eh eh eh eh eh)

You can run into my arms
It's okay don't be alarmed
Come into me
There's no distance in between our love
So go on and let the rain pour
I'll be all you need and more
Because

[Chorus]
When the sun shines, we’ll shine together
Told you I'll be here forever
Said I'll always be a friend
Took an oath I'ma stick it out till the end
Now that it's raining more than ever
Know that we'll still have each other
You can stand under my umbrella
You can stand under my umbrella
(Ella ella eh eh eh)
Under my umbrella
(Ella ella eh eh eh)
Under my umbrella
(Ella ella eh eh eh)
Under my umbrella
(Ella ella eh eh eh eh eh eh)

It's raining
Ooh baby it's raining
Baby come into me
Come into me
It's raining
Oh baby it's raining

10/14/2008

Membaringkan Angan di Atas Kebun Teh



Baringkan Angan Dihamparan Teh Kaligua

MEMBUNUH kecamuk dalam hati. Terbanglah di atas kabut berhawa peri. Kau pasti bisa. Karena cara ini bukan langkah misteri. Kau pasti suka. Karena cara ini hanya membutuhkan secuil nyali. Kau pasti suka lantaran hanya sedikit biaya, kau menemukan wajah Asli Indonesia. Tak sekedar berimajinasi. Tak hanya mimpi menjadi presenter Jejak Petualang di televisi. Yuk... aku ajak mendaki tanpa tali. Mo dengan motor, mobil pikup atau mobil pribadi. Asal jangan mobil plat merah ya.... Menjelajahi Perkebunan teh Kaligua, di Desa Pandansari, Paguyangan Kabupaten Brebes.
MENIKMATI keindahan panorama sepanjang perjalanan menuju wisata Agro Kebun teh Kaligua, sebaiknya pada pagi hari. Jalan utama jalur Tegal - Purwokerto ada pertigaan Kretek, sekitar 3 Km dari Kota Bumiayu. Dari pertigaan Kretek menuju lokasi sekitar 15 Km. Awal melintasi jalan agak menanjak dari pertigaan Kretek, memang udaranya masih terasa normal. Tapi setelah menempuh sekitar 5 kilomater akan terasa perubahan hawa. Perasaan dingin mulai mengelus kulit. Semakin menanjak, dari sekian kali melalui jalan berkelok, kabut tebal semakin mengurung sekitar pandangan. tapi ketika pagi hari cerah, justru bagai menatap diorama yang terhampar di dasar pembaringan. Ketika dingin kian mendekap, tebing di sebelah kanan, jurang di sebelah kiri. Jalan menanjak dan belokan patah. Pohon pinus menebarkan aroma minyak cat. Semakin naik di ketinggian. tampak panorama Brebes Selatan indah menawarkan fantasi. Dari salahs atu sudut belokan akan tampak hamparan biru Waduk Penjalin di kejauhan. Pasti akan berfanatsi, andai ada layang-layang besar, aku mengantung sambil melayang mengurai kesumpekan. Perkebunan sayur, kol, labu siyam terhampar di kanan kiri jalan. Permadani hijau yang senantiasa perawan. Hanya para petani yang terpekur khusuk merawatnya dari hama dan belalang. Di kanan kiri jalan tumpukan sayur dalam karung bagai gapura agraria.

Konon perkebunan ini didirikan tahun 1899 oleh Cultuur Onderneming di Negeri Belanda. Untuk perwakilan di Indonesia ditunjuk Fan John Pletnu & Co yang berkedudukan di Jakarta. Salah seorang pengusaha bernama De Jong, kemudian ditunjuk untuk mengelola perkebunan teh dan pada tahun 1942 diambil alih oleh penjajah Jepang. Maka tak ayal, jika di lokasi perkebunan teh yang mencapai luas 607,25 Ha itu terdapat gua Jepang, tepatnya di Blok Sirah I yang berjarak satu kilometer dari Kantor Pusat Kebun Kaligua. Pasca kemerdekaan, pada 1958 perkebunan teh ini kemudian dikelola oleh Kodam VII/Diponegoro (kini Kodam IV) bekerja sama dengan PT Sidorejo, Brebes. Produknya 90% untuk ekspor dan 10% untuk lokal. Secara singkat, dalam perkembangan berikutnya, pada tahun 1996 melalui restrukturisasi perkebunan negara pengelolaan kebun teh diserahkan kepada PTP Nusantara IX. Di lokasi perkebunan juga terdapat makam-makam orang-orang yang membuka lokasi kebun antara lain Van Dee Jong, Mbah Joko, Aki Soka, dan Aki Waslim. Selain itu, terdapat mata air yang keluar dari terowongan gua yang disebut Tuk Bening. Konon menurut cerita, sumber air ini menjadi cikal bakal nama Kaligua. Dipercayai sebagian penduduk setempat, air berasal dari mata air Kaligua dapat menjadikan pemakaianya awet muda. (Emang bening banget, segar, sejuk, meresap di pori sampai ke tulang) bisa untuk terapi kalau lagi pen ing akibat stress. Nah semakin sering stress tersembuhkan, berarti mengurangi risiko mati mendadak dong...) mungkin itu logikaku...



Salah satu produk dari perkebuna teh tersebut adalah Teh Hitam, begitu sebutan produk pabrik teh milik PT Perkebunan Nusantara IX (Persero) yang terletak di lereng Gunung Slamet, tepatnya di Dusun Kaligua Desa Pandansari Kecamatan Paguyangan, Brebes. Bila anda ingin melepas lelah, menghirup udara segar atau sekedar jalan-jalan bersama keluaarga barangkali perkebunan teh Kaligua adalah pilihannya. Pabrik teh Kaligua yang berada di ketinggian 1.500 meter di atas permukaan laut dan di sana anda akan dapat harumnya teh tunggu apalagi. Kini telah tersedia Vila di sekitar lokasi pabrik teh. Aku paling suka memandang Vila Amarilis. Apalagi menempati barang semalam. Pasti bergumul dengan dingin dan gigil sepanjang malam. Selimuuutannnn dong.

Ultah Nanggap Ronggeng

Perkebunan teh Kaligua berdiri tahun 1879, pada tahun 1901 mengusung mesin yang pertama kali berupa ketel uap. Ditempuh dengan jalan kaki selama 20 hari dengan jarak 15 kilometer, diikuti oleh group ronggeng dengan gamelan yang dimaksudkan untuk menghibur pada pekerja yang kecapaian, hari Minggu 1 Juni 2008 kemarin / lalu merupakan hari ulang tahun yang ke 37 pabrik pengolahan teh hitam. Untuk mengakui kerjasama tersebut secara monumental, setiap ulang tahun pabrik teh Kaligua selalu melengkapi dengan acara nanggap ronggeng yang didatangkan dari Jati Lawang Kabupaten Banyumas (Itu loh daerahnya Budayawan penulis Novel terkenal Ronggeng Dukuh Paruk, Ahmad Tohari) hal tersebut untuk mengingatkan kebersamaan. Demikian dikatakan Administratur PT Perkebunan Nusantara IX Kebun Teh Kaligua Tri Hartono, BSc dalam wawancara dengan para wartawan hari minggu 1 Juni 2006 lalu.



Lebih lanjut Tri Hartono, BSc mengatakan sebagai kawasan perkebunan yang terletak di Desa Pandansari Kecamatan Paguyangan Kabupaten Brebes Propionsi Jawa Tengah, juga memiliki obyek wisata berupa panorama alam yang indah, sejuk, segar antara lain berupa situs pertapaan Gua Angin Barat, Petilasan Nyi Ronggeng, Mata Air Tuk Bening, Gardu Pandana, Puncak Sakup (Igir Sakub) yang berlokasi di ketinggian 2050 meter dari permukaan air laut serta gua Jepang, makam Van De Jong, disamping pohon teh ajaib.



Sementara bagian operasional wisata agro Kebun Teh Kaligua Marjono menambahkan bahwa telah tersedia fasilitas untuk Out Bond Game, camping rombongan, sewa kendaraan keliling kebundan sewa gedung pertemuan, lapangan tenis serta 5 wisma penginapan untuk para pengunjung (berbagai sumber).



10/13/2008

Kampung Emping Bumiayu

Bikin Emping, Daripada Nganggur

PAGENJAHAN sebuah dusun di Desa Kalierang Kecamatan Bumiayu, Brebes, Jawa Tengah. Warga Pagenjahan dikenal sebagai penghasil emping melinjo di Brebes Selatan. Meski penjualan emping terasa seret, namun masyarakat setempat tidak kenal putus asa. Mereka tetap membuat emping. Bagi sebagian warga dukuhl Pagenjahan, emping salah satu produksi rumahan (home industri) yang dapat menopang kebutuhan hidup sehari-hari. Meski ada warga mengaku, produksi emping yang dikerjakannya karena terpaksa. “Daripada nggak ada kerjaan lain, terpaksa nikin emping. Hasilnya paling pas-pasan buat makan,” aku Kasmuri (50) kurang bersemangat.

Pengakuan Kasmuri cukup beralasan. Karena harga melinjo sosoh atau yang sudah dikuliti perkilo Rp 5000. Setiap dua kilo melinjo dengan kualitas bagus paling menghasilkan sekilo emping. Ciri-ciri melinjo bagus, mata bijihnya besar-besar dan warnanya hitam belang. Sebaliknya, jika melijonya kecil-kecil setiap 2 kg hanya menghasilkan emping kurang dari sekilo.

Buah melinjo yang dihasilkan petani tidak semuanya berkualitas bagus. Untuk mendapatkan melinjo berkualitas cukup sulit. Daerah penghasil melinjo berkualitas bagus, atara lain Desa Talok, Kalijurang dan Langkap Kecamatan Bumiayu.

“Kebanyakan melinjo Talok bagus dibuat emping. Setiap dua kilo melinjo bisa menjadi sekilo emping. Kualitas empingpun bagus. Warnanya kuning, renyah dan tidak berasa aor (getir),” aku pembuat emping, Saadah (54) kepada penulis di dapur rumahnya.

Dijelaskan Saadah, lain lagi melinjo dari daerah Selatan, seperti Winduaji dan sekitarnya, itu kurang bagus dibuat emping. “Biasanya bagus tidaknya melinjo setelah disangrai, ketika digeprek tidak kalis dan kenyal melainkan lengket di palu bahkan ancur,” tuturnya.

Menurut Bahrudin (63), Melinjo dari daerah selatan kadar airnya terlalu tinggi. Akibatnya ketika melinjo ditumbuk terlalu renyah, mudah hancur dan susah dibentuk menjadi bulatan serupa mata uang logam.

Dalam sehari, Saadah mengaku hanya mampu menghasilkan 3 kilogram emping. Sedangkan cara membuat emping melinjo, tutur Saadah, itu gampang. Pertama-tama, melinjo yang telah dikuliti disangrai sedikit demi sedikit di atas penggorengan. Jika melinjo sudah matang, api kompor distel kecil. Melinjo yang sudah disangrai lalu diangkat segenggam demi segenggam untuk digerus di atas penggerusan yang lebar. Tiap sepuluh biji digerus secara perlahan, agar remuk cangkang atau kulit kerasnya. Satu persatu melinjo dikuliti sambil ditaruh di landasan/ talenan tebal lalu digeprek (dipipihkan) dengan batu gepeng sampai melinjonya pipih dan bundar tipis. Satu keping emping diperlukan tiga sampai empat butir melinjo. Itu untuk ukuran standar. Jika melinjonya kecil-kecil bisa mencapai 5 biji per keping emping. Setelah terbentuk emping, dalam kondisi basah, emping ditata di atas widik (wadah serupa geribik) segi empat untuk dijemur hingga kering. Proses pengeringan dibutuhkan waktu kira-kira dua sampai tiga jam. Atau lebih cepat lagi jika matahari terik.

Harga emping basah perkilonya Rp. 15.000. Sedangkan emping kering perkilo Rp. 18.000. Emping mentah cocok untuk dijadikan oleh-oleh. Pantas juga buat menyumbang orang hajatan. Sedangkan emping goreng, bisa disantap sebagai makanan kecil atau disajikan bersama gulai maupun nasi goreng.

Ciri khas emping Pagenjahan, warnanya putih, rasanya gurih dan tidak pahit. Aroma melinjonya tidak terlalu menyengat. Hanya saja, kata Bahrudin, empingnya tidak bisa disimpan lama. Paling cuma bertahan sampai tiga hari. “Beda dengan emping asal Limpung (Batang), emping Limpung bisa tahan lama,” akunya.

Karena itu, pemasaran emping Pagenjahan, hanya dijual di sekitar wilayah Brebes Selatan, terutama di pasar Bumiayu. Selain dijual langsung kepada para pengecer, juga ada tengkulak yang menampungnya.

Selain warga membuat emping dari melinjo yang dibelinya sediri dari pasar, juga ada sebagian warga yang hanya sebagai tenaga upahan membuat emping. Melinjo dari seorang juragan emping disuplai ke warga. Misalkan satu kwintal melinjo dibagikan ke lima orang untuk dibuat emping. Ongkos perkilo melinjo Rp. 2500. Jika seorang dapat jatah 20 kg melinjo, maka dia akan terima ongkos Rp 50.000. Sehari rata-rata seorang bisa menghasilkan 5 kg emping, atau sekitar 10 kg melinjo. Jadi, dalam sehari pendapatan dari upah membuat emping sekitar Rp. 25.000. (Hamidin Krazan)

Kampung Emping Bumiayu

Bikin Emping, Daripada Nganggur

PAGENJAHAN sebuah dusun di Desa Kalierang Kecamatan Bumiayu, Brebes, Jawa Tengah. Warga Pagenjahan dikenal sebagai penghasil emping melinjo di Brebes Selatan. Meski penjualan emping terasa seret, namun masyarakat setempat tidak kenal putus asa. Mereka tetap membuat emping. Bagi sebagian warga dukuhl Pagenjahan, emping salah satu produksi rumahan (home industri) yang dapat menopang kebutuhan hidup sehari-hari. Meski ada warga mengaku, produksi emping yang dikerjakannya karena terpaksa. “Daripada nggak ada kerjaan lain, terpaksa nikin emping. Hasilnya paling pas-pasan buat makan,” aku Kasmuri (50) kurang bersemangat.

Pengakuan Kasmuri cukup beralasan. Karena harga melinjo sosoh atau yang sudah dikuliti perkilo Rp 5000. Setiap dua kilo melinjo dengan kualitas bagus paling menghasilkan sekilo emping. Ciri-ciri melinjo bagus, mata bijihnya besar-besar dan warnanya hitam belang. Sebaliknya, jika melijonya kecil-kecil setiap 2 kg hanya menghasilkan emping kurang dari sekilo.

Buah melinjo yang dihasilkan petani tidak semuanya berkualitas bagus. Untuk mendapatkan melinjo berkualitas cukup sulit. Daerah penghasil melinjo berkualitas bagus, atara lain Desa Talok, Kalijurang dan Langkap Kecamatan Bumiayu.

“Kebanyakan melinjo Talok bagus dibuat emping. Setiap dua kilo melinjo bisa menjadi sekilo emping. Kualitas empingpun bagus. Warnanya kuning, renyah dan tidak berasa aor (getir),” aku pembuat emping, Saadah (54) kepada penulis di dapur rumahnya.

Dijelaskan Saadah, lain lagi melinjo dari daerah Selatan, seperti Winduaji dan sekitarnya, itu kurang bagus dibuat emping. “Biasanya bagus tidaknya melinjo setelah disangrai, ketika digeprek tidak kalis dan kenyal melainkan lengket di palu bahkan ancur,” tuturnya.

Menurut Bahrudin (63), Melinjo dari daerah selatan kadar airnya terlalu tinggi. Akibatnya ketika melinjo ditumbuk terlalu renyah, mudah hancur dan susah dibentuk menjadi bulatan serupa mata uang logam.

Dalam sehari, Saadah mengaku hanya mampu menghasilkan 3 kilogram emping. Sedangkan cara membuat emping melinjo, tutur Saadah, itu gampang. Pertama-tama, melinjo yang telah dikuliti disangrai sedikit demi sedikit di atas penggorengan. Jika melinjo sudah matang, api kompor distel kecil. Melinjo yang sudah disangrai lalu diangkat segenggam demi segenggam untuk digerus di atas penggerusan yang lebar. Tiap sepuluh biji digerus secara perlahan, agar remuk cangkang atau kulit kerasnya. Satu persatu melinjo dikuliti sambil ditaruh di landasan/ talenan tebal lalu digeprek (dipipihkan) dengan batu gepeng sampai melinjonya pipih dan bundar tipis. Satu keping emping diperlukan tiga sampai empat butir melinjo. Itu untuk ukuran standar. Jika melinjonya kecil-kecil bisa mencapai 5 biji per keping emping. Setelah terbentuk emping, dalam kondisi basah, emping ditata di atas widik (wadah serupa geribik) segi empat untuk dijemur hingga kering. Proses pengeringan dibutuhkan waktu kira-kira dua sampai tiga jam. Atau lebih cepat lagi jika matahari terik.

Harga emping basah perkilonya Rp. 15.000. Sedangkan emping kering perkilo Rp. 18.000. Emping mentah cocok untuk dijadikan oleh-oleh. Pantas juga buat menyumbang orang hajatan. Sedangkan emping goreng, bisa disantap sebagai makanan kecil atau disajikan bersama gulai maupun nasi goreng.

Ciri khas emping Pagenjahan, warnanya putih, rasanya gurih dan tidak pahit. Aroma melinjonya tidak terlalu menyengat. Hanya saja, kata Bahrudin, empingnya tidak bisa disimpan lama. Paling cuma bertahan sampai tiga hari. “Beda dengan emping asal Limpung (Batang), emping Limpung bisa tahan lama,” akunya.

Karena itu, pemasaran emping Pagenjahan, hanya dijual di sekitar wilayah Brebes Selatan, terutama di pasar Bumiayu. Selain dijual langsung kepada para pengecer, juga ada tengkulak yang menampungnya.

Selain warga membuat emping dari melinjo yang dibelinya sediri dari pasar, juga ada sebagian warga yang hanya sebagai tenaga upahan membuat emping. Melinjo dari seorang juragan emping disuplai ke warga. Misalkan satu kwintal melinjo dibagikan ke lima orang untuk dibuat emping. Ongkos perkilo melinjo Rp. 2500. Jika seorang dapat jatah 20 kg melinjo, maka dia akan terima ongkos Rp 50.000. Sehari rata-rata seorang bisa menghasilkan 5 kg emping, atau sekitar 10 kg melinjo. Jadi, dalam sehari pendapatan dari upah membuat emping sekitar Rp. 25.000. (Hamidin Krazan)

AtisAduso: Iqra

AtisAduso: Iqra

PUISI PERHELATAN BAYANG DAN KENYATAAN

 LAHIR DAN MELATA  Hamidin Krazan Di Kaki Bromo  Lahir telanjang Jika itu kau jabang bayi lelaki Seharusnya kau tetap bugil teronggok di ata...