10/31/2021

DUA ALASAN PMI GEMAKAN SUMPAH PEMUDA DI HONGKONG

 



(INFO ATISADUSA) - Usai sarapan roti, Sri Murniasih (Murni) bergegas berjalan menuju halte bus Thai Sui Hong. Liburan Minggu pada akhir Oktober ini tidak digunakan untuk plesir, shoping atau kongkow seperti biasanya. Melainkan syuting video untuk konten medsosnya. Isinya tentang ungkapan rasa
 cinta tanah air Indonesia melalui pembacaan teks Sumpah Pemuda, meski kini berada di manca negara. Dengan begitu momentum Hari Sumpah Pemuda tak hanya dirasakan ratusan juta masyarakat di tanah air saja. Tiga dari ribuan Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Banyumas Raya, Jawa Tengah yang tengah berada di Hongkong ini turut serta berkiat untuk merayakan. Alasan apa sajakah mereka lakukan aksi cinta tanah yang fenomenal itu?

Dengan berbaju batik lengan panjang dipadu kerudung dan rok rnerah, layaknya pakaian buat kondangan? Murni telah berjanji dengan tiga rekannya. Ketiga perempuan sebaya dan senasib itu adalah Asih, teman satu desa dari Krajan, Pekuncen, Banyumas, kemudian Evi (Madiun) dan Resti (Banjarnegara). Mereka sesama Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Hongkong. Keempat sosok penyumbang devisa negera itu bermaksud ingin menunjukkan jatidirinya sebagai anak bangsa, melalui konten medsos yang diunggap tepat pada moment Hari Sumpah Pemuda ke 92. Meski secara tampilan menandakan satu dan lainnya tengah bergelimang sukacita menikmati hari-hari kerja sebagai PMI di negeri manca, namun jiwa dan semangat NKRI tetap menyala. Gebrakan yang mereka lakukan untuk memaknai 28 Oktober 2021 di negara The Pearl of Orient itu tidak lain membagikan hasil syuting video berdurasi 53 detik berisi rekaman pembacaan teks Sumpah Pemuda.

Menurut cerita Murni, dirinya dan ketiga PMI telah sepakat pada Minggu (24/10/2021)  bertemu di halte bus Causeway Bay. Untuk sampai di halte di pusat kota itu membutuhkan waktu, normalmya 30 an menit, pagi itu lama perjalanan sekitar satu jam. Murni sangaja datang lebih pagi, karena pada hari itu juga akan ada kegiatan massal –semacam jalan sehat— di sekitar wilayah yang mereka tuju.

“Khawatir telat, bisa gagal agenda yang sudah jauh hari direncanakan,” tulisanya melalui chat WA. Hari masih pagi, Murni dan kawan-kawan tiba di halaman Perpustakaan Pusat Hong Kong (Hongkong Central Library).  Sebuah perpustakaan terbesar di Hong Kong, perpustakaan unggulan Perpustakaan Umum Hong Kong sekaligus sebagai kantor pusat Perpustakaan Umum Hong Kong, berfungsi sebagai Perpustakaan Nasional wilayah itu. Terletak di persimpangan Moreton Terrace dan Causeway Road di Causeway Bay. Di area itu setiap hari Minggu digunakan para PMI asal Indonesia menghabiskan waktu liburan akhir pekan.

Menurut Murni, karena teks Sumpah Pemuda sudah dihafalnya, sehingga take tidak membutuhkan waktu lama. Setelah video yang dishoot oleh Evi asal Madiun, lalu diedit secara sederhana, dan diunggah melalui akun IG-nya tepat pada  moment peringatan Sumpah Pemuda ke 92, Kamis (28/10/2021). Ia mengunggah video dirinya mengucapkan Sumpah Pemuda di depan patung Globe halaman Central Library, Hongkong. Lalu membagikan video dirinya di instagram pribadinya, @murney878 dan hingga tulisan ini disusun, sudah ditonton oleh 7.200 kali lebih.

Dalam video tersebut, Murni yang sudah bekerja selama dua tahun di Hongkong itu,  mengenakan pakaian batik bersama dua temannya, Murni Asih asal Krajan dan Resti dari Banjarnegara. Mereka mengucapkan tiga poin Sumpah Pemuda. Diakhiri dengan adegan mencium bendera yang berada di hadapan mereka saat membaca ikrar.

Menurut Murni, beberapa teman telah diajak untuk ikut membaca secara koor. Tetapi, karena banyak yang sibuk dengan urusan yang telah diagendakan, akhirnya hanya bertiga yang tampil. Saat membaca ikrar Sumpah Pemuda, akunya, banyak warga Hongkong yang memberikan apresiasi terhadapnya.

“Aku  melakukan itu karena dua alasan. Pertama, ya sengaja saat hari sumpah pemuda aku ingin baca teks sumpah pemuda di tengah-tengah keramaian Hongkong.  Karena walaupun sementara aku hidup di negeri rantau, hati tetap Indonesia.  Kedua, biar semua tahu, walaupun hidup mengadu nasib di negeri orang, hati dan jiwa tetap buat Indonesia,” katanya merinci alasannya.   

“Banyak saat itu yang nonton, dan mereka memberikan apresiasi yang luar biasa. Bahkan setelah unggahannya direpost oleh sejumlah media online dan IG komunitas, tidak sedikit teman-teman yang menyesal karena tidak ikut,” kata Murni.

Ia mengatakan memilih lokasi di depan Central Library karena di tempat tersebut merupakan pusat keramaian. “Tadinya mau di KBRI tetapi penuh. Akhirnya di depan Central Library karena tempat ini kan juga tempat bersejarah diharapkan sejarah Indonesia juga bisa dikenal,” katanya.

Pilihan baju batik yang digenakan, meski seperti orang mau ke undangan hajatan, dimaksudkan agar budaya Indonesia lebih dikenal. “Batik kan warisan budaya leluhur dan sudah dikenal. Kami berani menunjukkan ini karena memang budaya kami,” tutur ibu dari salah seorang siswa kelas 3 SD Negeri Krajan 01 penuh semangat. (h)

9/12/2021

JALAN BERBAKTI MELALUI PUISI

Resensi Buku

JALAN BERBAKTI MELALUI PUISI

Judul       :Antologi Puisi IBU KITA IDOLA

Penulis    :Pemuisi Sastra Pinggiran

Editor     : Tim Sastra Pinggiran

Penerbit  : Satria Publisher, Banyumas

Catakan  : Pertama Tahun 2021

Tebal      : 200 Hlm.

 





Semua pemuisi yang tergabung dalam antologi puisi Ibu Kita Idola (IKI), tim pengepul karya dan segenap pemilik daya yang berperan dalam proses terbit hingga buku ini sampai di sanding Anda, niscaya terlahir dari rakhim seorang ibu. Tuhan mewajibkan hambanya agar berbakti kepada kedua orang tua, terutama kepada ibu. Atas kemurahan-Nya pula kita diberikan banyak jalan lapang dan mudah yang dapat dilalui sebagai langkah kebaktian kepada ibu. Jika menulis puisi dapat dijadikan sarana salah satunya, maka tidak serta merta para hamba harus menjadi penyair terlebih dulu agar bisa menempuh jalan meraih keridhoan Tuhan atau kebaktian melalui puisi. Terbitnya buku antologi IKI telah membuktikan itu. 

Menurut Mas guru Trisnatun Abuyafi dalam pengantar menuliskan, bahwa IKI yang diinisiasi Ketua Komunitas Orang Pinggiran Indonesia (KOPI), Kang Wanto Tirta, pada mulanya terbit dalam rangka Hari Ibu (2020), namun akibat terkendala teknis, pada moment peringatan hari Kartini 2021 lah IKI terlahir. ‘Saya meyakini bahwa takdir dan nasib atas kumpulan naskah puisi bertema ibu ini memang seharusnya lahir di bulan April 2021’, tulis Mas Tris

natun. Setidaknya, jika kita menoleh sejarah, konon asal mula peringatan Hari Ibu itu dikarenakan adanya protes para ibu aktivis lantaran Presiden Soekarno lebih dulu menetapkan Hari Kartini di bulan April.

Syah saja jika kelahiran IKI dirasa sebagai kejutan di bulan April. Satu dan lain hal yang perlu diakui sebagai kejutan lain adalah bersatunya para pemuisi yang telah dengan sungguh-sungguh mewujudkan romantika diri, merangsang diri, berasyik mansyuk dalam pergumulan kreatif sehingga menghamili diri sampai terlahir puisi,  atas jiwa kebaktian diri kepada sang ibu yang terwujud jabang bayi berwajah puisi. “Para ibu” yang telah berhasil melahirkan puisi khas dan khusus ini berasal dari lintas gender dan profesi. Ada para pendidik dari kepala sekolah di beberapa satuan pendidikan sampai guru honorer yang berjiwa pejuang, sampai tenaga kependidikan namun berstatus PNS/ ASN. Ada penulis produktif yang bukunya sudah belasan judul hingga mantan wartawan senior sekaligus Redaktur Budaya koran harian nasional yang juga penyair dan kini menjadi wakil rakyat. Titik kejut yang paling monumental namun laten, ketika IKI terbit lalu ‘gelombang alun laut pikiran’ dan semua hal yang terkait dengan sosok ibu itu menyatu dalam bait-bait puisi. Terlebih ketika konten bait itu berisi pujian dan doa-doa. Pastinya dua amalan kepada sosok ibu itu tidak pernah basi. Boleh jadi membacanya menjadi bagian ritus “ibadah” jika diniatkan secara ikhlas karena ketundukan kepada-Nya.

Antologi puisi IKI terdiri dari 46 lebih pemuisi. Rata-rata setiap kontributor menulis tiga puisi (39 orang) ada dua penulis dengan 4 puisi (Saeran Samsidi dan Pensil Kajoe), dua penulis dengan 2 puisi (Dosen Sastra Indonesia UPS Tegal, Dr. Tri Mulyono, M.Pd., dan Presiden Guritan Banyumas, Wanto Tirta). Empat penulis dengan satu puisi (Riyanto, Hamidin dan dua sosok anggota Komisi III dan I DPRD Banyumas, Balqis Fadillah, Sh. I., M.Pd, dan Djadjat Sudradjat, S.Ip., M.Si. selain itu ada yang masih duduk di bangku SLTA hingga youtuber. Kecuali penulis tamu, para pemuisi tergabung grup WA Sastra Pinggiran kemudian bersebuku dalam antologi puisi setebal 200 halaman, memuat 134 puisi tema ibu dan tema bebas.

Jika dicermati lebih telaten, akan ditemukan tebaran mutiara makna yang mengungkap soal ibu, sekalipun secara teori penulisan puisi bisa jadi seorang kurator akan menilai sarkas, dan sejumlah kekurangan dalam banyak hal sesuai kapasitas, pemahaman teori dan disiplin ilmu sastranya. Namun coba saja dicerna dengan landasan tematik. Maka tebaran mutiara itu tampak tercetak. Pada awal puisi pembaca diasah dria pendengarannya, akan ornamen tuturan sebagai ungkapan kasih sayang seorang ibu di kurun waktu tertentu yang fenomena itu kini nyaris punah. Seperti senandung, ‘Tak lélo lédung .../ Kemuidan gambaran sosok ibu yang begitu piawai dalam menyimpan segala gejala psikologi yang bersisi negatif, pandai menyimpan rasa, ada istilah jawa menyebutnya ‘sepi ing pamrih’, dalam sebuah syair lagu anak yang sangat terkenal, kasih sayang seorang ibu yang galibnya tanpa pamrih itu dipersonifikasihan, ‘bagai sang surya menyinari dunia’ sebab apa yang diberikan seorang ibu bagi anak-anaknya, ‘suka memberi dan tak harap kembali’.

Adiyanto melalui sajak ‘Mewangi Putih Hatimu’ mengolah perumpamaan ‘ketidakpamrihan’ seorang ibu dengan kalimat yang membangunkan imaji auditif, ‘Keluhmu bahkan nyaris tak pernah kudengar/ kesah gundah pun kau simpan dalam-dalam/ tak diperdengarkan/ (hlm. 3). Beda dengan ungkapan ‘Ini Tentang Ibu’ (Muslikhah) yang mencuatkan sanjungan kepada sosok ibu dengan imaji campuran, baik kosa kata perangsang sisi visual, audio maupun citraan perabaan. ‘langkah tanpa bayangan/ ... tempat penuh asap .../ wangi bawang goreng .../ sangit asap dapur/ denting piring beradu sendok/ dengung nyamuk ... / (hlm. 63-64). Penekanan antara ibroh kesejatian jiwa sang ibu yang dipadukan dengan diksi penggiur dria pengecap sangat dominan dalam sajak ‘Lorong Waktu dalam Seracik Menu’ (Balqis Fadillah), /Senyum dalam teh gula batu/ dzikir kopi tahlil/ syukur kue kamir / dan lainnya (hlm. 159) membuat sajian puisi dalam antologi IKI semakin kaya aroma kembang jiwa dan kemajemukan rasa.

Adegan kasih sayang dengan perumpamaan yang diwarnai idiom dan simbol legendaris, tergambar di puisi ‘Biyungku Tercinta’ (Agus Yuwantoro), ‘Kangen Simbok’ (Lik Amad), ‘Selamat Pagi Biyung’ (Rubby Kr), ‘Kusenandungkan Kidung untuk Hari Ibu’ (Saeran Samsidi), wujud kekhusukan dan ungkapan mutiara dari ceruk hati dapat dicerna dalam sajak ‘Doa Ibu’ (Akhmad Mubarok), ‘Air Mata Ibu adalah Doa’ (Edi Maryono), ‘Dalam Pangkuan Ilahi’ (Fera Seftiana), ‘Ziarah’ (Kang Mul), ‘Hadiah Buat Bunda’ (Rahayu Hartiningsih), ‘Doa untuk Ibu’ (Siti Khotimah), ‘Cahaya Hidupku’ (Yulianti).

Selain ungkapan di atas, puisi di antologi IKI, didominasi dengan ungkapan keprihatinan, ketakziman, penyanjungan yang begitu rupa perumpamaan. Penasaran? Silakan miliki dan selamat mengapresiasi. (Hamidin Krazan) 

 

8/19/2021

PEJUANG DEVISA ASAL DESA KRAJAN KIBARKAN MERAH PUTIH DI PUNCAK KOWLOON, HONGKONG

 :Banyak Jalan Unjuk Nasionalisme

“Jika para pejuang kemerdekaan mengibarkan bendera merah putih sebagai unjuk rasa symbol perlawanan terhadap para penjajah yang biadab, lantas kalau pejuang devisa dari Indonesia kibarkan merah putih di negeri Jacky Chan, apa maksudnya?”

"Walau saya hanya seorang pekerja migran Indonesia, sangat merasa nggak rela, saat peringatan Kemerdekaan RI nanti, sang merah putih berkibar di bawah atau sejajar dengan bendera dari negara lain. Merah putih harus membumbung paling tinggi di antara yang lain," --Srimurniasih (16/08/2021) 

  

Tahun 1928 para pejuang pengusir kaum penjajah di Pulau Jawa mengibarkan bendera merah putih sebagai bentuk perlawanan dan protes terhadap Belanda yang mencaplok kekayaan dan menyengsarakan rakyat Indonesia. Kemudian bendera merah putih sebagai lambang Negara Indonesia pertama kali dikibarkan oleh Bapak Proklamator, Ir. Soekarno saat memproklamasikan Indonesia di Jalan Pegangsaan Timur 56 di Jakarta pada 17 Agustus 1945.

Bermula, ikon-ikon heroisme dengan cara mengibarkan bendera merah putih oleh rakyat Indonesia  yang diyakini melambangkan semangat kebangsaan untuk melepaskan diri dari penjajahan Belanda, Kemudian di era kemerdekaan, hal serupa dilakukan rakyat setiap merayakan hari kemerdekaan Indonesia sebagai jelmaan atas kekuatan doktrin di setiap jiwa masyarakat berupa sikap nasionalisme. Pastinya bendera merah putih menjadi identitas dari suatu bangsa, khususnya Indonesia.

Pada moment detik-detik proklamasi Kemerdekaan Indonesia, hingga kini yang ke 76, pada Selasa, 17/08/2021, masyarakat Indonesia tetap melakukan hormat kepada Sang Saka Merah Putih ketika bendera berada di puncak tertinggi cakrawala, meski secara virtual akibat masa pandemi. Seraya mengheningkan cipta dalam iringan doa hingga tersusup rasa keharuan mendalam pada momen itu, sambil mengingat jasa-jasa dan perjuangan para pahlawan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Tak terkecuali, kibaran bendera merah putih yang dijulangkan di puncak Bukit Kowloon ketinggian 6002 Mdpl. yang biasa disebut Fei Ngo Shan (gunung angsa melonjak). Melalui unggahan akun medsos milik si tangan pejuang devisa, Sri Murniasih, seorang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal grumbul Dukori, Desa Krajan Kecamatan Pekuncen, Banyumas, Jawa Tengah yang kini tengah bekerja di Hongkong.

Sensasi mengibarkan bendera merah putih di puncak ketinggian, pada momen HUT RI tentunya hanya dapat dirasakan oleh segelintir rakyat Indonesia. Baik di atas gunung tertinggi di suatu wilayah daerah, pulau bahkan dunia. Namun, apa yang telah dilakukan anak kedua dari empat bersaudara, pasangan biyung (ibu) Pon dan rama (bapak) Tasum Haryanto asal desa di Barat Daya lereng Gunung Slamet ini sungguh sensatop (baca: sensasional dan bikin ngetop, wkwwk).  

Bagaimana tidak? Buktinya, aksinya cukup menjadi sorotan khususnya bagi warganet di  Banyumas Barat bahkan foto hasil tangkap layar dari sebuah halaman media online di Banyumas dan Jawa Tengah, seketika mejeng di banyak status pemilik WA.

Setidaknya, ibu muda yang sudah 2 tahun di negeri Jacky Chan, alumni SMK Ma’arif Winduaji, Brebes yang telah dikarunia dua orang anak ini, seketika  menggugah, mengingakan bahkan membakar semangat kebangsaan kita  --yang lagi drop akibat PPKM berkepanjangan?-- dengan cara yang tepat dan patut diapresiasi. Pokoke ara kaya Sri lah he he he

Bukit Rengosan eh, Fei Ngo Shan

Kalau dibandingkan, antara ketika Sri yang berjilbab dengan paduan merah putih lalu berdiri di atas bukit Kowloon dengan – jika senadainya – ia memanjat pohon cengkih di bukit ‘Watu Karut’? Tinggian mana hayo …? Pasti masih lebih tinggi dan ekstrim yang kedua. Kan desa Sri berada di ketingggian 350 – 1000 Mdpl. Ya kan? Sedangkan di atas Bukit Koloon hanya separohnya lebih. Tapi kan Hongkong, ya Mba? Bedalah sensasinya.

8/18/2021

SANTRI KELAS 7 PPM ZAM ZAM IKUTI FORTASI


(HAMID-INFO) - Fortasi merupakan salah satu kegiatan pra perkaderan yang dilakukan oleh pengurus Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) di tingkatan paling bawah, sebagaimana yang dilakukan Pimpinan Ranting (PR) IPM Pondok Pesantren Modern (PPM) Zam Zam Putra dan IPM Zam Zam Putri  pada Kamis-Sabtu, (19-21/08/2021), diikuti santri kelas 7 SMP MBS Zam Zam putra dan putri termasuk santri yang berada di Gedung Abu Bakar Ashiddiq Asrama Putra 2 di Karanglo, semuanya berjumlah 323 anak. Kegiatan fortasi ini sangat penting, sebab menurut Kepala Sekolah SMP MBS Zam Zam, Ustadz M Djohar, M.Pd., ketika menyampaikan sambutan dalam pembukaan acara Fortasi di Pondok putra, dikatakan bahwa Fortasi sebagai bagian dari proses perkaderan IPM. Kegaiatan ini merupakan gerbang atau garda depan pengenalan awal semua hal tentang IPM dan lebih umumnya tentang Muhammadiyah.

Ikuti dengan sebaik-baiknya, karena fortasi ini merupakan masa-masa ta’aruf, untuk mengenal tentang organisasi Ikatan Pelajar Muhammadiyah di Kabupaten Banyumas ini. Dan, IPM merupakan media untuk mencetak kader-kader. Baik kader persyarikatan, kader ummat maupun kader bangsa. Saya berharap anak-anak sekalian, ke depan betul-betul jadi pemimpin. Baik pimpinan di persyarikatan maupun pimpinan di tengah umat dan di tengah bangsa ini,” pesan Ustadz Djohar.

Dijelaskan, pengenalan IPM sebagai organisasi otonom pelajar di Muhammadiyah berawal dari proses fortasi ini. Maka, fortasi mempunyai peranan sangat penting untuk bisa mengenalkan dan mengimplementasikan agenda aksi IPM dari tingkatan yang paling bawah.

Begitu pula pesan Wakil Kepala Sekolah SMP MBS Zam Zam Putri, Ustadzah Evy Nurhidayati, S.Pd., ketika menyampaikan sambutan kepada para calon IPMawati di aula pondok putri, katanya, taaruf itu untuk saling mengenal satu sama lain, saling mengenal dengan kakak kelas, pengurus IPM, mengenal  apa itu IPM dan Muhammadiyah? Seperti apa organisasinya, bagaimana sepak terjangnya.

“Kalianlah kader-kader penerus organisasi Muhammadiyah. Suatu saat nanti, bisa jadi, salah satu dari kalian yang berdiri di mimbar ini untuk membuka Forum Ta’aruf dan Orientasi. Karena kalianlah penerus, kader organisasi yang sudah terpilih di Pondok Pesantren Muhammadiyah Cilongok ini. Siap yah jadi kader persyarikatan?” tandasanya.

Sementara Wakil Kepala Sekolah SMP MBS Zam Zam putra, Ustadz Fachri Afifudin, S.Pd., ketika memberikan sambutan dalam pembukaan Fortasi di gedung Abu Bakar Ash Shiddiq Asrama Putra 2, beliau lebih menekankan pentingnya taaruf dalam kegiatan yang lebih luas. “Sebagai kader dan calon pemimpin, akan sangat ideal ketika anak-anak sekalian memiliki hubungan pertemanan dalam lingkup lebih luas. Di PPM Zam Zam ini, kalian dipertemukan dengan teman dari lain desa, beda kabupaten bahkan lintas provinsi. Maka itu bisa dijadikan modal kalian sebagai kader pimpinan, kader persyarikatan bahkan kader bangsa,” ujarnya mantap.

Materi Fortasi yang disampaikan  pemateri baik dari IPM Ranting, PC IPM Cilongok dan asatidz, antara lain tentang Ke-IPM-an, Keorganisasian, Kemuhammadiyahan dan lainnya. (h)

8/16/2021

AKSI REBOISASI MAHASISWA TURUT HIJAUKAN SESAOT

  :Kolaborasi KKP UIN Mataram dan KKN MAS Ajak Warga Tanam Mahoni 


Penyerhan bibit Pohon Mahoni
Tri Dharma Perguruan Tinggi merupakan karakter khas yang melekat dalam jiwa setiap mahasiswa Indonesia. Selain pendidikan dan penelitian, setiap mahasiswa mempunyai kewajiban pengabdian terhadap masyarakat. Kuliah Kerja Nyata (KKN) sebagai media untuk mewujudkan aspek pengabdian. Yakni mengimplementasikan ilmu yang telah diperoleh selama mengikuti perkuliahan agar bermanfaat bagi masyarakat. Momen tesebut bagi setiap mahasiswa bagian dari hal yang tak bisa terlupakan. Sebagaimana yang dilakukan secara kolaboratif antara kelompok mahasiswa Kuliah Kerja Partisipasif (KKP) Universitas Islam Negeri (UIN)  Mataran yang diketuai Muhammad Maksyum Safi’I dan kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN) Mahasiswa Muhammadiyah- Aisyiyah (MAS) Banyumas yang diketuai Fatkhurrozaq Ramadhan, bersama warga Desa Sesaot, Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat, telah menanam 100 bibit pohon mahoni di Daerah Aliran Sungai (DAS), tepatnya di sepanjang sungai yang berada di desa wisata PUREKMAS, pada Sabu (15Agustus 2021).

 M. Maksyum Safi’i Ketua KKP UIN Mataram (Kiri), Fatkhurrozaq R. Ketua KKN-Mas (Kanan)

Menurut Ketua Kelompok KKN MAS, Fatkhurrozak, kegiatan ini dapat tercapai berkar kerja sama bersama dengan mitra penyedia bibit yaitu SMK Kehutanan Al Ma’arif Qamarul Huda Keling. “Kegiatan ini dilakukan untuk terus menunjang potensi yang ada di  Desa Sesaot yang kaya dengan keindahan alamnya. Terlebih Desa Sesaot merupakan salah satu desa yang terkenal dengan wisata alamnya. Seperti kawasan hutan lindung dan juga hutan kemasyarakatan serta sumber mata air murni, sehingga upaya untuk melestarikan


 alam seperti penanaman bibit pohon Mahoni ini sangat tepat dan cocok,” terangnya.

Sebagaimana dikatakan Kepala Desa Sesaot, Ibu Yuni Hari Seni, S.Pd., pohon mahoni merupakan salah satu pohon yang memiliki banyak manfaat selain sebagai penyerap polusi, biji dari buah pohon ini juga dapat dijadikan bubuk pembunuh jentik nyamuk, kulitnya sebagai pewarna alami, dan batangnya sebagai bahan kayu untuk perabot rumah seperti furniture. “Saya mengapresiasi kegiatan reboisasi yang dilaksanakan oleh KKP UIN MATARAM dan KKN-MAS. Tentunya ini akan menjadi suatu gebrakan yang menindak-lanjuti program yang sudah dilaksanakan desa. Tentunya dengan reboisasi ini Sesaot menjadi lebih hijau, debit airnya semakin meningkat. Semoga dengan nawaitu-nya adik-adik mahasiswa ini akan menjadi pahala yang terus mengalir. Karena satu pohon saja yang tumbuh besar akan memberi banyak manfaat untuk banyak orang,” ujar Ibu Kades.

Harapannya, semoga dengan penanaman kembali (reboisasi) ini dapat memberi banyak manfaat bagi masyarakat dan lingkungan desa Sesaot. Semoga pohon yang telah ditanam tumbuh dengan penuh kebermanfaatan, memberi manfaat terhadap kelestarian alam. Idelanya lagi Desa Sesaot menjadi kawasan yang lebih sejuk, asri dan rimbun, serta melimpah debit airnya sehingga kawasan ini tetap menjadi sumber mata air bagi 3 kabupaten kota.

Kolaborasi Aksi KKP UIN Mataran dan KKN MAs 

Ketua KKP UIN Mataran, M. Maksyum menambahkan bahwa kegiatan mahasiswa antara dua perguruan tinggi dari Jawa dan Mataram ini berlangsung selama satu bulan sejak Kamis (12 Agustus 2021) s,d Rabu (15 September 2021). “Kelompok yang saya pimpin ada 13 anggota sedangkan dari kelompikm KKN MAS ada 11 anggota. Semoga kolaborasi dalam pelaksanaan kegiatan reboisasi ini sebagai wujud pengabdian dan bermanfaat bagi masyarakat,” pungkasnya. (h)

7/28/2021

LOMBA KARYA TULIS DAN SENI PPM ZAM ZAM

 PARA JUARA LKTS 2021:

SELAIN HADIAH UANG SENILAI 7 JUTA RUPIAH JUGA PEROLEH BUKU LETERA 2  

 "Para pemenang selain mendapatkan hadiah uang tunai dan sertifikat, juga akan mendapatkan buku Lentera Jidil 2 dengan cetak ber-ISBN ..."

(HAMID-IN-FO) Tiga puluh (30) santri berhasil ditetapkan sebagai juara dalam serangkaian kegiatan Lomba Karya Tulis dan Seni (LKTS) Tahun Pelajaran 2020-2021 Pondok Pesantren Modern (PPM) Zamzam Muhammadiyah Cilongok. Ada delapan (8) mata lomba dengan masing-masing juaranya, yang meliputi Artikel Bahasa Indonesia, Komik Bahasa Indonesia, Cerpen Inspiratif Bahasa Indonesia, Puisi Bahasa Indonesia, Puisi Bahasa Arab, Puisi Bahasa Inggris, Poster dan Kaligrafi. Menurut Ketua Panitia LKTS Tahun 2021, Ustadz Nanang Rahmat Hidayat, S.Pd.‎, M.Pd.‎, dari masing-masing jenis lomba diambil tiga sampai 5 kejuaran. Seperti mata lomba Puisi Bahasa Indonesia, cerpen dan kaligrafi yang pesertanya sangat banyak sehingga tidak sebatas juara 1,2 dan 3 saja melainkan ada juara harapan 1 dan 2.

“Para pemenang selain mendapatkan hadiah uang tunai dan sertifikat, juga akan mendapatkan buku Lentera Jidil 2 dengan cetak ber-ISBN yang isinya selain naskah para juara juga naskah terpilih dari peserta LKTS. Sedangkan naskah yang belum tersaring dalam buku Lentera Jilid 2 InsyaAllah akan dibukukan dalam buku antologi tersendiri,” urainya.

.  

Sebagaimana dikatakan PJ LKTS 2021, Ustadz Pandi Yusron, B.Sh. M.H., LKTS) Tahun Pelajaran 2020-2021 ini digelar sebagai ajang untuk menggali minat bakat sekaligus memacu semangat sekaligus menyiapkan santri dalam mengikuti event/ lomba karya tulis dan seni di level kabupaten, provinsi, dan nasional.  “Melalui lomba ini sebagai upaya untuk menghimpun karya tulis terbaik menjadi buku Letera jilid 2 yang ber ISBN, sekaligus untuk menumbuhkan budaya literasi di lingkungan pondok pesantren, baik di unit SMP maupun SMA dan kelas khusus,” ungkapUstadz Pandi yang juga Wadir Tarbiyah PPM Zamzam dan Kepala SMA MBS Zamzam.

Dikatakannya, budaya baca tulis merupakan anjuran Allah Subahanahu wata’ala, sebagaimana termaktub dalam surat Al Qalam ayat 1. ‘Nun wa al-qalami wa ma yasturun.’ Nun, demi qalam dan apa yang mereka tulis.’ Ayat tersebut merupakan petunjuk dan sumber inspirasi dunia mengenai pentingnya tradisi menulis untuk membangun peradaban. Menulis menuntut adanya ilmu, keterampilan, dan riset, sehingga kegiatan tulis menulis menjadi faktor terpenting dalam membangun peradaban manusia, terutama dalam rangka mendakwahkan ilmu pengetahuan ke seantero dunia. Dengan tulisan, ilmu yang kita miliki bisa ditularkan kepada generasi secara turun temurun, bahkan saat penulis sudah tiada, ilmunya masih hidup karena karya tulisannya dibaca oleh generasi-generasi berikutnya. Imam Muhammad bin Idris Al-Syafi’i misalnya, usianya 54 tahun, tapi keilmuannya lintas generasi karena karya-karya tulisnya yang begitu banyak dan bermanfaat. Oleh karenanya Imam Syafi’i pernah berpesan, al-‘ilmu shaidun wa al-kitabatu qaiduhu: ilmu itu ibarat hewan buruan, dan menulis adalah tali pengikatnya.

 

Para juri selain para Asatidz PPM Zamzam juga diambil dari luar pondok sesui kapasitas bidang yang dikuasai. Yaitu ustadz Sukirno, Lc., MA., Evy Nur Hidayati, S.Pd., M. Noor Hidayat, S.Pd., Fitri Lilinawati, S.Pd., Rina Rahmawti, S.Pd., Erna Wahyu Wulandari, S.Pd., Rifqi Alfathul Adhim, S.Kom., Himawan Tri Utama., M. Rifa’i, Lc., Siti Suruurotun Nafiah (Navi)., Renita Rizky Amelia, S.Pd., Sahalal Ma’ruf, S.Pd., dan Setiadi Nurhakim, S.Pd. Sedangkan nama-nama pemenang silakan  dilihat melalui link YouTube Ponpes Zamzam Official :

https://www.youtube.com/results?search_query=hamidin+krazan

Berikut daftar Para Juara LKTS PPM ZAMZAM CILONGOK BANYUMAS

TAHUN PELAJARAN 2020/2021.

 

Puisi Bahasa Arab: Ammar Jundi XI IPS 2; Hana Fia Fakhira I  & Farida Yumna X KMI 2;

M. Ahdan Lutfi  X Bahasa 1 & M. Fathurrahman Prima Sakti.  

Puisi Bahasa Inggris: Rista Samara A. XII IPS 3, Mitsqola Dzarratin IFM XII MIPA 2, Najwa Aisyah  VIII G

Puisi Bahasa Indonesia: M. Fathurrahman Prima Sakti X BAHASA 1, Muhammad Ilham Sutarwono  VIII B, Luki Hendria Pasadhi X Bahasa 2, Muhandisa Elvin Rahmita XI IPS 3, Ikmal Afif R, X IPS 1.

Cerpen: Zalfa Naurah VII I, Fauziyah Fatkhi rizki x kmi 2

Tsamarah kinasih h. Vii k

Artikel

Fauzan riyo wigunawan xi mipa 1

Dilla alifah putri xi ips 4

Naufa syahidah vii j

 Komik

Aufa khairrany hanifah vii g

M yazid zaidan x kmi 1

Yaffa regina a x bhs 2

 Poster

Marsha putri andresta viii g

Alfan ziyadaturrazaq viii d

Hana fia fakhira isnaei x kmi 2

 

Kaligrafi

Lintanis syafiqiina d x kmi 2

Asiah hanifah

Xi mipa 3

Mifta fadila r. Xi ips 3

Hana fia fakhira i x kmi 2

Haedar nufrizal akbar  viii d

12/09/2020

 Resensi Buku

HIJRAH SOSIAL
Judul : Juwara sing Kalah (Novelet)
Penulis: Akhmad Mubarok, S.Pd.SD
Penerbit : Yayasan Carablaka, Banyumas
Cetakan: I Agustus 2020
Hal: 127 hl.
Harga: -


Dari satu kesalahan ke kesalahan lain, manusia menemukan kebenaran (Sigmund Freud). Kata bijak dari tokoh psikologi dunia itu harus dicermati sebagai penyadaran, bahwa segala sesuatu terjadi harus melalui proses panjang. Proses itu pastinya dinamis seiring dengan titik tuju atau cita-cita, obsesi, keinginan serta munajat yang bersumber dari dalam diri individu. Dalam ajaran agama yang penulis yakini, ada konsep hijrah. Yakni hijrah maknawi. Sebuah gerakan yang dilakukan secara sungguh-sungguh dan berkelanjutan untuk mengubah diri dari hal-hal buruk menjadi baik, dari kesalahan menuju jejak yang benar dari kegelapan ke cahaya benderang yang mencerahkan.
Dalam novela (novelet) yang ditulis seorang guru SD asal Rawalo ini telah berusaha mewakilkan hakikat hijrah itu ke dalam kisah berlatar sosial religius. Sosial secara fakta alur cerita dan setting serta intrik kejadian yang dibangun, dan religius (bernilai keagamaan) dalam konteks karakter yang ditanamkan pada figur/ tokoh. Terlepas nilai-nilai keagamaan itu digambarkan mengalami alur yang fluktuatif, itu hal yang faktual dan manusiawi. Yakni, kenyataan bahwa ada sosok yang berlatar belakang pendidikan agama serta biasa mengamalkan nilai ajaran agama, namun ada masa goyah dalam hal menegakkan istiqomah dalam dirinya, itu sangat karikatural atas kenyataan yang banyak ditemui di sekitar/ atau mewakili "kita". Boleh dibilang, "gue banget?"
Menjadi menarik, ketika tokoh utama (Alief) yang alim kemudian menjadi ternina-bobo dalam dunia gemerlap (dugem), keluar masuk bar, diskotik, tempat 'karaoke plus' sehingga akhirnya kenal dan jatuh cinta kepada seorang pramuria (jadi ingat lagu lawas "Kisah Seorang Pramuria" yee hehe), lalu menikah.
Keterjerumusan Alief tidak serta merta pelampiasan kekecewaan akibat dilecehkan, ditolak cinta oleh calon mertua pacar, meski klasik, namun penulis punya missi kuat: Alief ingin mengentaskan Lita dari jurang kegelap-binatangan menuju altar kehidupan ideal melalui jenjang halal: pernikahan. Cita-cita itu tercapai, meski akhirnya dalam perjalanan kehidupan halal itu justru didera tempaan demi tempaan terus membombardir kesucian cintanya. Sungguh bukan perkara sepele, menghadapi istri mantan pramuria, lalu setelah nikah masih tak jera melakukan tindak pengkhianatan. Maksiat kambuhan? Jika bukan Alief, barangkali rumah tangga dalam kisah ini sudah bubrak. Itulah pentingnya pesan dalam sebuah cerita sekalipun itu tidak semata-mata hasil imajinasi? Terpenting, penulis telah berhasil mematahkan pepatah Jawa yang mengatakan: watek, marine angger urung depekek (sebelum mati). Ternyata, dalam kisah ini, bisa! (hl.116) Dalam kisah ini pada bab-bab 11 dan 13 sebagai klimak alur kisah yang jika terjadi di alam nyata, aka menjadi kisah panjang bahkan huru-hara. Namun ada bab 12 sebagai pesan kuat bahwa untuk berusaha baik itu mahal. Butuh modal pastinya harta selain kekuatan cinta dan satu hal penting juga: bergaulah dengan orang-orang baik. Ya seperti teman Alief si Agus Markondel itu.
Beberapa kekurangan dalam buku ini yaitu pada editan dan tema yang identik sama jika pembaca juga telah membaca karya penulis pada kisah serupa di buku judul lain. Selamat membeli dan baca. Oh, iya. buku ini dipaparkan dalam bahasa Jawa Banyumasan Penginyongan. (Hamidin Krazan)






PUISI PERHELATAN BAYANG DAN KENYATAAN

 LAHIR DAN MELATA  Hamidin Krazan Di Kaki Bromo  Lahir telanjang Jika itu kau jabang bayi lelaki Seharusnya kau tetap bugil teronggok di ata...